Ayo Kenali Masjid Tua Nagari Kambang
- Mar 20, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Informasi Umum, Agama, Adat & Budaya
Mesjid Al-Imam Koto Baru Kambang, Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan adalah mesjid situs cagar budaya oleh pemerintah. Mesjid ini secara fisik penanganannya memang berbeda dengan mesjid lain karena keaslian bangunan dan ornamennya dijaga oleh pemerintah dan warga setempat. Mesjid ini memiliki sejumlah fasilitas utama diantaranya ruang shalat yang nyaman, perpustakaan dan MDA/TPSA, tempat wudhuk, parkir dan juga berada di pusat budaya Nagari Kambang. Mesjid Al Imam memiliki peran yang sangat strategis di masyarakat Kambang. Masjid tersebut selain sebagai tempat syiar agama, juga untuk memecahkan berbagai persoalan ekonomi warga Kambang.
Sementara dilain pihak tidak sedikit pula warga yang datang untuk menambah buku - buku berkualitas di sana. Setiap bulan puasa, perpustakaan mesjid ini selalu dibuka. Posisi perpustakaan di samping kanan depan masjid. Bangunan perpustakaan masjid terpisah dari bangunan tempat ibadah. Masri, salah seorang Pengurus Mesjid Al Imam Menyebutkan, perpustakaan dibuka setiap hari selama bulan puasa. Dibuka mulai Pukul 08.00 WIB dan ditutup pada sore hari. Berikut beberapa judul buku, mulai dari soal fiqih, tauhid dan lain-lain. “Juga masih tersimpan di lemari perpustakaan kitab-kitab kuning lama.Kitab-kitab al-Umm, al-Majmu' Syarah Muhazzab, Irsyadus Sari Syarah Shahih Bukhari, Syarah Ihya (Ittihaf Sadatil Muttaqin), Tuhfatul Muhtaj, dan lain-lainnya,” katanya. Kitab – kitab tersebut biasanya memang hanya akan dipesan oleh atau dibaca oleh peminat peminat khusus, misalnya santri pondok pesantren, para guru guru agama dan lain-lain. Masjid dan perpustakaannya terletak di jantung nagari Kambang, yakni Balai Kamis Koto Baru.
Bangunan itu adalah sebuah mesjid yang diberi nama oleh para pendirinya Al-Imam atau sang pemimpin. Kini telah berumur 89 tahun semenjak berdiri. Bentuk bangunannya unik dan sangat menarik. Kabarnya dirancang dari Belanda dan Tiongkok dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Khas Eropa. Mesjid yang tidak pernah dirombak dari bentuk aslinya oleh Dinas Kepurbakalaan, menjadikan mesjid ini sebagai cagar budaya. Al - Imam adalah lambang kesatuan agama dan adat di Kambang. Dalam tambo adatpun demikian betapa ia menjadi sentral bagi masyarakat Kambang. Tertuang dalam tambo yang terwarisi hingga kini "Masajik limo, koto sambilan, imamnya di Koto Baru. Performa Mesjid Al - Imam sungguh membawa kita kemasa lalu. Kubahnya antik dan menarik berupa payung besar, memiliki arti tigo payuang sakaki. Tigo payuang sakaki adalah struktur adat yang tidak lekang hingga kini dan melekat dengan bangunan itu.
Kemudian reliefnya yang juga sangat menarik perhatian yang menggambarkan orang Kambang sangat menjaga seni dan keindahan.. Lalu melongok pula ke dalam bangunan. Tiang tiangnya masih orisinil. Tiangnya itu konon kabarnya dibuat orang "sakti" di Nagari Kambang. sama dengan masjid umumnya tiang masjid tersebut memiliki makna. Didalam mesjid terdapat 14 tiang, sementara di luar terdapat 50 tiang. Tiang dalam mesjid menjadi simbol 14 Datuak di Kambang, berikut tiang-tiang luar yang berjumlah 50 bermakna niniak mamak nan limopuluah. Katar Datuak Sati Tokoh
Masyarakat Kambang menyebutkan, bangunan dan tiang itu telah berdiri semenjak tahun 1926. "Semenjak berdiri, mesjid itu tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan hanya dilakukan pada daun pintu, sementara yang lainnya tidak," kata Katar Datuak Sati. Mesjid ini karena terletak di jantung Nagari Kambang, maka setiap waktu tampak makmur. Kegiatan ibadah lima waktu tidak ada yang tertinggal. Pengajian - pengajian selepas Isya atau subuh juga berlangsung dengan baik dan terencana. Semenjak dahulu hingga kini, mesjid Al - Imam memiliki peran stategis melahirkan kader kader ulama.