Buya Samik Ibrahim: Perintis Muhammadiyah dari Pesisir Selatan

  • Mar 12, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Artikel, Agama, Adat & Budaya

Oleh : FB Pasisia Bana
Buya Samik Ibrahim merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di Kabupaten Pesisir Selatan. Ia dikenal sebagai perintis organisasi Muhammadiyah di wilayah pesisir Sumatera Barat, khususnya di kawasan Bandar X. Sosoknya tidak hanya dihormati sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sebagai pejuang kemerdekaan, saudagar, dan tokoh masyarakat yang berpengaruh pada masanya.

Samik Ibrahim lahir pada 8 Agustus 1908 di Nyiur Gading, Koto Baru Kambang, wilayah yang kini berada di Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan. Sejak muda ia dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi serta kepedulian besar terhadap pendidikan dan kemajuan umat. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang religius turut membentuk karakter kepemimpinan dan kepeduliannya terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Dalam bidang pendidikan, Samik Ibrahim dikenal sebagai seorang guru yang pernah mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Ia tercatat mengajar di Volkschool Kambang, HIS Muhammadiyah, serta Normaal School Muhammadiyah di Padang. Melalui dunia pendidikan tersebut, ia berperan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan semangat kemajuan kepada generasi muda pada masa itu.

Selain sebagai pendidik, Samik Ibrahim juga dikenal sebagai seorang saudagar yang aktif dalam kegiatan perdagangan. Ia terlibat dalam perusahaan NV KOPAN serta organisasi Persatuan Bandar Sepuluh (PERBAS). Aktivitas bisnis ekspor dan impor yang dijalaninya membuatnya dikenal luas di kalangan saudagar dan masyarakat pesisir.

Keterlibatan Samik Ibrahim dalam dunia usaha juga mendorongnya aktif dalam organisasi ekonomi masyarakat, seperti Persatuan Saudagar Indonesia (PERSDI). Melalui organisasi tersebut, ia mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat serta memperkuat jaringan perdagangan para saudagar pribumi pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Dalam perjuangan kemerdekaan, Samik Ibrahim juga mengambil peran penting. Ia turut terlibat dalam perintisan Tentara Keamanan Rakyat Angkatan Laut (TKR-AL) pada akhir September 1945. Pada masa itu, banyak pemuda dari Pesisir Selatan yang bergabung menjadi tentara, dan Samik Ibrahim memberikan dukungan logistik berupa ransum bagi para calon prajurit yang menjalani latihan militer di Padang.

Kontribusinya terhadap perjuangan bangsa juga terlihat pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu kreditur terbesar yang memberikan dukungan kepada Divisi IX Banteng. Bantuan tersebut sangat berarti bagi perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Sumatera Barat.

Samik Ibrahim wafat pada 24 November 1978 ketika menunaikan ibadah haji di Makkah. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi piagam sebagai pahlawan masyarakat oleh Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas pada 17 Agustus 1979. Hingga kini, nama dan jasa Buya Samik Ibrahim tetap dikenang sebagai tokoh yang berjasa besar dalam pengembangan Muhammadiyah, pendidikan, dan perjuangan kemerdekaan di Pesisir Selatan.