Cuaca Tidak Menentu di Pessel, Aktivitas Nelayan Terganggu
- Jun 03, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Resiliensi
KOMPASNAGARI.KIM.ID-Nelayan di Pessel sebulan terakhir terganggu akibat kuatnya angin selatan menghantam daerah itu. Angin selatan oleh nelayan dianggap cuaca buruk dan berbahaya, dan bila dipaksakan, hasil tangkapanpun tidak memuaskan.
Yola (35) pemilik kapal tonda di Pasar Gompong, Kambang Kecamatan Lengayang menyebutkan, kapal tondanya tidak turun melaut tiga minggu terakhir.
“Sekarang musim angin selatan. Dimusim angin selatan ombak besar dan angin berhembus kuat dari arah selatan,” katanya.
Disebutkan, untuk keluar muara saja kapal sangt sulit, apalagi menempuh lautan lepas. Akibat tidak melaut, ia mengalami kerugian. Soalnya, dengan tetap bertahan dengan kondisi seperti ini, biaya harian terus membengkak.
"Biasanya, saya dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp2,5 juta sekali turun melaut. Namun, semenjak tiga minggu terakhir saya justeru tidak menurunkan kapal. Sementara kebutuhan, terutama untuk anak buah kapal terus dipenuhi," katanya menjelaskan.
Hal yang sama juga terjadi pada nelayan pukat tepi. Nelayan pukat tepi tersebut semenjak sebulan belakangan juga mengeluh akibat hasil yang diperoleh tidak dapat menutup biaya operasional.
Rasmil (65) warga Amping Parak kepada Haluan menyebutkan, satu kali turun, pukatnya hanya mampu menghasilkan ikan sekitar satu ember. Jumlah itu sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan selama pukat dioperasikan.
"Pukat kami dipenuhi ubur ubur. Sementara jumlah orang yang terlibat dalam operasi pukat tepi setidaknya 12 orang. Maka dengan hanya mendapatkan satu ember, tenaga kerja yang terlibat tidak mendapatkan apa apa," katanya menjelaskan.
Harga Ikan Tidak Stabil
Terkait dengan buruknya cuaca sebulan belakangan, harga ikan dipasaran tidak stabil. Bahkan dibeberapa pasar tradisional, harga ikan melonjak seiring rendahnya hasil tangkapan nelayan.
Tuti (38), ibu rumah tangga di Tarusan menyebutkan, ia membeli ikan seharga Rp28 ribu setiap kilo. Untuk mensiasati mahalnya harga ikan, ibu tiga anak ini beralih ke sumber protein lain, misalnya telur. (har)