Direktur KEHATI Riki Frindos : Satu Juta Spesies Hewan dan Tanaman Terancam Punah

  • Oct 31, 2025
  • Kompasnagari.kim.id
  • Flora & Fauna

KOMPASNAGARI.KIM.ID -Pegiat lingkungan yang bernaung dalam lembaga Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Amping Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat dikunjungi Riki Frindos selaku Direktur Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Indonesia baru - baru ini. Dalam kunjungan tersebut Riki membicarakan tentang persoalan pemanasan global dan berbagai dampaknya.

Kepada pegiat lingkungan Amping Parak, Riki menjelaskan sejumlah laporan lembaga internasional tentang ancaman kepunahan berbagai spesies hewan dan tumbuhan di dunia."Laporan PBB setebal 1.800 halaman menjelaskan  juta spesies hewan dan tanaman di darat, laut, dan udara terancam punah, akibat tindakan manusia. Alam mengalami kerusakan secara drastis di mana-mana akibat tindakan manusia dalam mencari makanan dan energi yang tak pernah surut. ," katanya.

Tren ini bisa dihentikan, kata laporan PBB tersebut, namun memerlukan perubahan mendasar dari sisi manusia ketika berinteraksi dengan alam. Dalam laporan yang penyusunannya memerlukan waktu tiga tahun dengan materi referensi mencapai 15.000, disebutkan memang alam terkena dampak dari ulah manusia, namun apa yang terjadi dalam 50 tahun terakhir digambarkan seperti "luka yang sangat dalam".

Populasi manusia terus bertambah sejak tahun 1970, perekonomian global tumbuh empat kali lipat sementara volume perdagangan internasional naik 10 kali lipat. Untuk menyediakan makanan, pakaian dan energi, hutan-hutan dibabat dalam skala masif, terutama yang berada di daerah tropis.

Antara 1980-2000, 100 juta hektare hutan tropis hilang, sebagian besar diubah menjadi areal peternakan di Amerika Selatan dan menjadi lahan sawit di Asia Tenggara. Yang lebih tragis adalah lahan basah. Dibandingkan tahun 1700, jumlahnya hanya tersisa 13% pada tahun 2000.

Kota berkembang dengan cepat, yang membuat luas wilayah perkotaan meningkat dua kali lipat sejak tahun 1992. Semua kegiatan manusia ini membunuh spesies dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kajian global menunjukkan, rata-rata 25% binatang dan tananam sekarang terancam.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran sekitar satu juta spesies akan punah dalam beberapa dekade mendatang. Dibandingkan rata-rata dalam 10 juta tahun terakhir, jumlah spesies dalam beberapa dekade ke depan meningkat puluhan hingga ratusan kali. "Dr Kate Brauman, pakar dari Universitas Minnesota dan wakil ketua tim penyusun laporan mengatakan bahwa dokumentasi mereka adalah kerusakan keanekaragaman hayati dan kerusakan alam dalam skala yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya dalam sejarah manusia," katanya.

Terungkap pula bahwa kualitas tanah menurun tajam, yang membuat produktivitas tanah di permukaan bumi turun 23%. Nafsu manusia untuk mencari makanan energi juga memicu timbunan sampah. Polusi plastik naik sepuluh kali lipat sejak 1980. Setiap tahun kita menimbun 300-400 juta ton logam berat, pelarut, cairan beracun dan limbah lain ke alam.

Apa penyebab krisis?

Penulis laporan tersebut menyebutkan beberapa faktor, yang utama adalah penggunaan lahan. Artinya, mengubah padang rumput menjadi areal tanaman pangan atau mengubah hutan menjadi hutan tanaman industri kuno atau membuka hutan untuk tanaman pangan. Ini terjadi di banyak tempat, terutama di negara-negara tropis. (KIM Amping Parak)