Ditemukan Dua Rangka Kapal Asing di Laut Amping Parak Berusia 100 Tahun Lebih
- Mar 22, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Desa Wisata
KOMPASNAGARI.KIM.ID -Laut Amping Parak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat menyimpan banyak kenangan yang patut dibaca kembali generasi penerus. Bahwa perairan di sebelah barat Pulau Sumatera ini pernah menumpuh masa jaya sebagai jalur perlintasan dan persinggahan kapal besar dari berbagai negara semenjak dahulu kala.
Sejumlah kapal besarpun ketika masa jayanya perlintasan itu ada yang karam diamuk gelombang akibat peperangan. Kapal kapal itu kemudian menjadi kapal legendaris yang dikenang orang di sana sepanjang masa. Muara Ampiang Parak Kecamatan Sutera adalah salah satu saksi bisu kejayaan itu. Disana hingga saat ini masih diceritakan secara turun temurun kisah sebuah kapal legendaris yang karam dimuara tersebut. Kapal yang kemudian hanya dikenal dengan sebutan kapal dari Belanda.
Yendri (54) Tokoh Masyarakat kapal setempat menyebutkan, di sini pernah terjadi sebuah milik Belanda karam. Hingga kini bangkai kapal itu diperkirakan berada disekitar Pintu Muara. Soal nama, hingga kini masih menjadi misteri, karena tidak ada catatan resmi terkait tersebut.
Dikatakannya, proses dan bagai mana kapal itu bisa karam hanya dinyatakan secara turun temurun di masayarakat. Lalu sebagai bentuk yang diberikan kepada kapal legendaris itu, kawasan pantai di muara Ampiang Parak itu diberi nama pasia kapa (Pasir Kapal).
Salah satu ungkapan yang paling terkenal dimasyarakat hingga kini tentang kapal Belanda tersebut adalah barabah tabang ka juda, tibo dijuda makan padi, jembatan basi alun sudah, kapa lah karam di muaro . “Kapal itu diperkirakan karam di penghujung abad 19. Kapal itu mengangkut material bahan pembuat jembatan Amping Parak yang diangkut Belanda dari Jawa,” katanya.
Kemudian informasi lain menyebutkan, kapal yang diperkirakan sekelas perintis itu karam ketika kapal hendak keluar dari muara setelah bongkar material selesai. Ketika kapal keluar, gelombang saat itu besar, lalu menyebabkan kapal karam. Namun seluruh kapal awak saat itu dikabarkan selamat.
"Dibawah tahun 70-an bagian kapal justeru ada yang menyembul keluar terutama ketika pasang susut. Kapal Bangkai dapat dilihat dari atas sampan. Kapal itu rata-rata memiliki panjang 70 hingga 80 meter," katanya.
Namun setelah itu, bangkai kapal itu tertimbun pasir akibat berubahnya pintu muara. Kapal itu kini tidak lagi dapat disaksikan karena tidak ada bagian kapal yang keluar. Kini warga hanya bisa menyaksikan empat buah tiang besi yang diduga berfungsi sebagai tambatan kapal.
Kemudian rangka kapal selanjutnya adalah rangka kapal di Gosong Nambi. Tim BPSPL Padang,Penggiat Penyu Amping Parak, dan Universitas Bung Hatta melakukan survei di lokasi lokasi kapal tenggelam di lokasi Amping Parak, Kab. Pesisir Selatan. Survey ini dilaksanakan dengan menggunakan dua metode, yaitu manta tow dan SCUBA Dive . Metode manta tow yang digunakan tidak untuk mengamati terumbu karang, tetapi untuk mencari kerangka di Gosong Nambi. Metode ini dilakukan dengan cara penarikan ditarik oleh kapal di kiri dan kanan. Penyelam ditarik oleh kapal dengan kecepatan 5 knot.
Posisi kapal tenggelam ditemukan pada koordinat 01.74321°LS dan 100.51645° BT. Lokasi ini berada di dekat menara suar distrik navigasi Kementerian Perhubungan. Bangkai kapal tenggelam ini berada pada kedalaman 5-20 m. Secara visual sulit untuk mengidentifikasi nama kapal dan asal kapal, hal ini dikarenakan bagian keseluruhan sudah berkarat (korosi) dan ditutupi oleh biota yang menempel lainnya. Bangkai kapal tidak terlihat secara keseluruhan, dikarenakan bagian deck dan buritan kapal sudah tertimbun oleh pasir.
Potensi sumber daya laut seperti kapal tenggelam ini dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar jika kelestariannya tetap terjaga. Lokasi ini bisa dijadikan tempat edukasi dan wisata khusus selam. (Haridman)
Keterangan Foto: Empat buah tiang besi yang menyembul di Muara Ampaing Parak Sutera, Pessel. Tiang ini diperkirakan dibangun tahun 1890 kapal yang dipersiapkan untuk tambatan besar.