Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ, Subsp.B.P.(K): Jejak Neuropsikiatri dari Ranah Bayang

  • Mar 15, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Artikel

Penulis : Pasisia Bana
Di ruang-ruang sunyi bangsal psikiatri, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, nama Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ(K) kerap disebut dengan nada hormat. Ia bukan sekadar dokter jiwa. Ia adalah jembatan antara denyut listrik sel saraf dan gelora batin manusia. Dari Ranah Bayang di Pesisir Selatan, ia melangkah jauh ke pusat ilmu kedokteran negeri ini—namun tak pernah benar-benar meninggalkan akarnya.

Lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada 1981, Nurmiati muda membawa tekad yang tak biasa. Ia bukan anak pejabat atau bangsawan. Ayahnya pedagang. Ibunya perempuan disiplin yang menanamkan nilai ketekunan sejak dini. Cita-cita menjadi dokter tumbuh bukan dari gengsi, melainkan dari dorongan sederhana: ingin menolong orang.

Langkahnya berlanjut ke Jakarta. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia menamatkan pendidikan spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa pada 1993. Dunia psikiatri yang kala itu masih kerap dipandang sebelah mata, ia tekuni dengan keseriusan ilmiah. Tahun 2005, ia meraih gelar Konsultan Psikiatri Biologi dari Kolegium Psikiatri Indonesia—sebuah bidang yang menempatkan otak dan sistem saraf sebagai fondasi pemahaman gangguan jiwa. Tiga tahun berselang, gelar doktor diraihnya dari universitas yang sama.

Di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, ia dikenal sebagai staf Divisi Psikiatri Biologi yang tekun. Jabatan Lektor Kepala bukan sekadar titel administratif, melainkan cermin konsistensi dalam pendidikan, penelitian, dan pelayanan. Kepakarannya dalam neuropsikiatri menegaskan satu hal: gangguan jiwa bukan sekadar persoalan “lemah iman” atau “kurang kuat mental”, melainkan persoalan kompleks yang melibatkan neurokimia, struktur otak, dan pengalaman hidup.

Namun kisah Nurmiati tak berhenti di laboratorium dan ruang kuliah. Ia adalah cucu dari Ilyas Ya'kub, pejuang nasional asal Bayang. Dari darah perjuangan itulah, barangkali, ia mewarisi etos pengabdian. Jika sang kakek bergerilya melawan kolonialisme, Nurmiati bergerilya melawan stigma terhadap gangguan jiwa.

Di Bayang Utara, rumah tua tempat kelahiran sang pahlawan kini tak sekadar menjadi monumen sejarah. Di sana berdiri Rumah Tahfiz Syekh Abdurrahman Bayang, tempat Nurmiati turut menjadi pengurus. Sudah sepuluh kali wisuda hafiz Al-Qur’an digelar. Bagi sebagian orang, itu kerja sosial biasa. Bagi Nurmiati, itu selaras dengan sains. Menghafal Al-Qur’an, menurut kajian neuropsikologi, merangsang fungsi memori, konsentrasi, dan plastisitas otak. Spiritualitas dan neurobiologi, dalam pandangannya, bukan dua kutub yang saling meniadakan.

Di tengah arus modernitas, ia menghadirkan sintesis: ilmu saraf yang rasional dan nilai-nilai religius yang membumi. Ia membuktikan bahwa menjadi ilmuwan kelas nasional tidak harus tercerabut dari identitas kedaerahan. Justru dari Bayang itulah ia berangkat, membawa nama Pesisir Selatan ke forum-forum akademik nasional.

Bagi generasi muda Minangkabau, kisah Nurmiati adalah pengingat bahwa tradisi merantau bukan sekadar mencari penghidupan, tetapi juga mencari ilmu untuk kembali memberi arti. Di pundaknya, warisan perjuangan dan pencapaian akademik bertemu. Dan dari pertemuan itu, lahir satu pesan yang sederhana namun dalam: dari ranah kecil, lahir cahaya besar.