Hadapi Puasa, Nelayan Pessel Perbanyak Stok Ikan Teri Kering Olahan

  • Feb 17, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Informasi Umum

KOMPAS.KIM.ID-Cuaca ektrim terus terjadi di perairan Pesisir Selatan (Pessel) menjelang memasuki bulan puasa 2026, dampaknya adalah hasil tangkapan ikan berukuran sedang dan besar sedikit. Menghadapi anomali cuaca tersebut nelayan mensiasati agar perekonomian tidak terhenti di bulan puasa dengan cara mengolah ikan ukuran kecil menjadi bernilai lebih tinggi.

Salah satu usaha pengolahan ikan di Pesisir Selatan yang banyak diusahakan adalah pengelolaan ikan teri basah menjadi teri kering. Usaha ini banyak diusahakan di Linggo Sari Baganti, Ranah Pesisir, Lengayang, Sutera, Batang Kapas dan Koto XI Tarusan.

Pengolahan ikan teri kering adalah salah satu upaya nelayan agar harga ikan lebih baik di pasaran saat produksi ikan ukuran besar turun. Banyak hal yang menyebabkan produksi ikan tangkapan tidak maksimal misalnya cuaca buruk. Aktivitas menangkap untuk kapal tertentu berhenti. Namun di sisi lain saat-saat seperti itu kebutuhan akan ikan tinggi, misalnya pada bulan puasa. Mengatasi hal itu nelayan Pesisir Selatan biasanya perbanyak stok ikan kering. Diprediksi ikan kering akan laris sebagai pengganti daging atau produk unggas yang mulai naik. 

Masril (67) nelayan di Carocok Koto XI Tarusan pengusaha ikan teri Senin (15/2/2026) menyebutkan, ia telah 20 tahun menggeluti usaha terrsebut. Harga teri sebetulnya relatif tinggi, namun biaya produksinya terbilang besar juga.

"Bahan dasar pembuat teri kering adalah ikan teri basah. Satu keranjang ikan teri basah dibeli seharga Rp650 ribu rupiah. Selanjutnya biaya yang harus dikeluarkan adalah pembeli kayu bakar dan biaya selama proseses perebusan dan penjemuran," katanya.

Pada bulan puasa ini menurutnya, harga jual satu kilogram teri kering Rp65 ribu, sementara teri kering yang dihasilkan dari satu keranjang ikan adalah 12 kilogram.

Ia biasanya memperbanyak stok pada bulan - bulan tertentu misalnya menjelang hari raya. Ia memperbanyak stok ikan kering untuk menghadapi langkanya ikan basah H-3 dan H+4 lebaran, soalnya sepekan menjelang lebaran dan sesudahnya nelayan tidak turun melaut.Masril fokus pekerjaan pada pengelolaan pengeringan ikan daripada menjual ikan segar ke pasaran.

Menurutnya, jenis ikan yang ia keringkan adalah ikan dengan ukuran tertentu saja. Misalnya ikan untuk diolah jadi teri atau yang ukurannya paling besar 3 jari orang dewasa. Rata-rata ikan yang dikeringkan adalah ikan yang ditangkap melalui payang, pukat tarik maupun jaring.

“Beberapa hari terakhir hasil tangkapan nelayan lumayan bagus, baik yang menggunakan pukat tepi maupun tang kapan pun payang. Hasil tangkapan itu hampir seluruhnya kami jadikan ikan kering, soalnya ikan kering menjelang lebaran akan meningkat pula harganya,” katanya.

Dikatakannya, ada dua jenis pengelolaan ikan yang digunakan nelayan di sini. Pertama menjemur ikan hasil tangkapan dibawah sinar matahari dan yang kedua dengan pengelolaan ikan teri khusus untuk jenis ikan teri.

Kini menurutnya, khusus ikan teri kualitas super laku dijual Rp65 ribu perkilogramnya. Melihat tren pasar harga tersebut bisa mengalami kenaikan."Saya sengaja memperbanyak stok ikan kering jenis teri menghadapi masa-masa tertentu, kebetulan tangkapan ikan bada bahan pembuat teri sedang berlimpah " mengungkapkannya.

Dikatanya, ikan kering merupakan cara nelayan untuk bisa bertahan pada masa tertentu. Jika tidak seperti itu, maka nelayan atau yang terkait dengan usaha menangkap ikan akan kehilangan pendapatan, sementara kebutuhan tinggi.
(har)
 

Foto: Masril (67) Nelayan Carocok Koto XI Tarusan, Kabupaten Pessel (kanan) dan dua pekerjanya sedang memisahkan ikan jenis teri sebelum ikan teri olahannya memasuki proses penjemuran.(Foto HARIDMAN)