Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia 5 November 2025, Amping Parak Gelar Simulasi Gempa 9,2 SR

  • Nov 05, 2025
  • Kompasnagari.kim.id
  • Informasi Umum

KOMPASNAGARI.KIM.ID-Nagari Amping Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat  menggelar simulasi gempa berkekuatan 9,2 SR berpotensi tsunami. Kegiatan tersebut berlangsung serentak di seluruh dunia dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Tsunami Tingkat Dunia yang jatuh pada tanggal 5 November 2025.

Ketua Forum PRB Amping Parak Haridman menyebutkan, kegiatan ini sudah dipersiapkan bersama pihak BMKG dan lembaga lainnya. "Untuk kegiatan simulasi ini berlangsung di seluruh negara yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami," katanya.

Disebutkannya, pelaksanaan simulasi berlangsung di Kantor Wali Nagari Amping Parak. Informasi gempa diperoleh dengan WRS Dummy Mode Test dari BMKG dan kemudain tanda peringatan tsunami menggunkan EWS yang ada di Nagari Amping Parak.

Hari Kesiapsiagaan Tsunami Sedunia diperingati setiap tanggal 5 November, sebuah ketetapan yang diresmikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 5 Desember 2015.

Penetapan hari global ini didasarkan atas inisiatif dan usulan dari Jepang, sebuah negara yang memiliki pengalaman pahit dan mendalam dalam menghadapi bencana tsunami. Tujuannya utama adalah untuk meningkatkan kesadaran global akan bahaya tsunami, pentingnya kesiapsiagaan, serta mendorong pengembangan sistem peringatan dini yang efektif di seluruh dunia guna mengurangi korban jiwa dan kerugian.

Pemilihan tanggal 5 November secara khusus menghormati kearifan lokal Jepang melalui kisah legendaris "Inamura-no-hi" atau 'Api dari Tumpukan Padi' yang terjadi pada tahun 1854.

Dalam kisah tersebut, seorang pemimpin desa, Hamaguchi Goryō, dengan tindakan cepat dan pengorbanan yang besar, membakar seluruh hasil panen padinya di bukit untuk menarik perhatian warga. Tindakan heroik ini berhasil memicu evakuasi seluruh penduduk desa ke tempat yang lebih tinggi, sehingga mereka terselamatkan dari gelombang tsunami yang meluluhlantakkan desa di bawah. Kisah ini menjadi simbol penting bahwa pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tindakan proaktif adalah kunci utama dalam mitigasi bencana.(Mayyyor)