Ikan Mingkih Plasma Nutfah Pesisir Selatan yang Terancam Punah

  • Aug 17, 2023
  • Kompasnagari.kim.id
  • Artikel

Jika Danau Singgkarak memiliki ikan khas bernama bilih, maka di Pesisir Selatan, tepatnya di Batang Kambang, Pelangai dan Batang Surantiah terdapat pula ikan khas yang disebut mingkih dalam dialek lokal disebut mingki. Konon, kabarnya ikan jenis ini tidak ditemukan ditempat lain dan hanya bisa hidup pada sungai di Sutera dan Lengayang dan Ranah Pesisir.

Habitat ikan mingkih adalah sungai berarus deras dan bebatuan besar. Misalnya disekitar Kampung Pasia Laweh, sekitar Kampuang Akad, sementara di Surantiah umumnya terdapat Langgai dan Batu Bala.   Bentuk fisik ikan mingki nyaris menyerupai ikan garing, namun sisiknya berwarna agak putih mengkilat. Kemudian  daging ikan mingki rasanya lebih enak dari ikan garing. Dan perbedaan yang sangat nyata terlihat dari struktur tulang, dimana ikan mingki tidak memiliki tulang yang banyak.

Jamalus (63), warga Pasie Laweh, Kambang Utara menyebutkan, ikan mingkih dapat mencapai panjang badan hingga satu meter. Namun rata rata ukuran dewasanya sekitar 70-100 cm. Ia hidup di sekitar hulu sungai atau di dekat bebatuan yang berarus deras. Mulut ikan minggki agak kecil dari ikan garing, sementara sisiknya agak tebal.

Ikan tersebut, oleh warga sekitar hulu Batang Kambang biasanya ditangkap dan di olah menjadi ikan bakar atau gulai ikan mingkih. Untuk memperlambat punah, biasanya warga menangkapnya dengan menggunakan tombak. Atau dengan pancingan khusus.

Berdasarkan pengamatannya, ikan mingkih memiliki kebiasaan hidup yang agak unik. Pada masa masa tertentu, ikan dewasa akan bermigrasi ke hilir tapi tetap memilih tempat yang nyaris serupa dengan lingkungan awal, misalnya pada musim kawin. Beberapa warga yang mengetahui kebiasaan ikan mingkih, biasanya akan berupaya untuk menangkap ikan yang melintas berkelompok kelompok.

"Biasanya migrasi itu hanya berlangsung selam dua atau tiga hari, dan ikan tersebut kembali kehabitatnya semula. Dan biasanya bertelur dan menetap ditempat semula. Satu ikan betina dewasa bisa menetaskan ratusan dan bahkan mungkin ribuan anakan, akan tetapi tidak semuanya bisa tumbuh hingga dewasa," katanya.

Menurutnya, menangkap plasmanutfah Pessel itu kini memang sulit dilakukan. Penyebabnya, ikan tersebut hidup dilokasi yang sulit, misalnya dibawah atau lobang batu besar. Selain itu, populasi ikan mingkih saat ini terus berkurang akibat terjadinya penangkapan dengan pestisida dan juga akibat pendangkalan sungai.

"Kami sebenarnya juga prihatin dengan makin menyusutnya ikan tersebut. Di Pasia Laweh melalui aturan kampung dan nagari memang telah melakukan upaya antisipasi, misalnya pelarangan menangkap ikan ditempat tempat tertentu. D Kampung ini juga ada lubuk ikan larangan, salah satunya untuk pelestarian ikan," katanya.

Sementara itu,Ilalima Putra tokoh masyarakat Kambang Utara menyebutkan, upaya pelestarian ikan khas dari Pessel itu perlu didukung bersama. Misalnya dengan membuat pusat pembudidayaan iakn mingki di daerah itu. "Jika hal itu bisa dilakukan, mudah mudahan ikan mingkih dapat terselamatkan," katanya.

Sementara itu Sekda Pessel Mawardi Roska, Selasa (15/8/2023) kepada kompasnagari.kim.id mengaku, ia sudah mendengar dan mengetahui tentang keberadaa ikan mingki. Bahkan, ikan yang tidak ada di daerah lain itu juga telah mendapat perhatiannya semenjak diketahui populasinya menurun. "Kami bicarakan ini dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pessel. Bagaimana baikanya untuk penyelamatan ikan dimaksud," katanya. 

Pemerintah Pesisir Selatan, senantiasa berkomitmen untuk melestarikan berbagai plasmanutfah dan hewan yang dilindungi. Misalnya sapi pasisie, itik bayang dan beberapa jenis hewan lainnya. Khusus untuk ikan mingki, dinas terkait perlu melkukan penelitian untuk mengetahui klasifikasi ikan ini. "Termasuk mengenai prilaku ikan itu sendiri. Tujuannya, untuk memudahkan pelestarian ikan tersebut.

Telah di Teliti UBH

Ikan mingkih sudah diteliti Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta. Hal ini dikatakan Dr Harfiandi Damanhuri Dosen Fakultas Perikanan Bung Hatta.

Menurutna, ikan mingkih merupakan salah satu ikan di perairan Sungai di Kabupaten Pesisir Selatan yang termasuk terancam punah dan perlu untuk dilestarikan. Hal tersebut karena ikan mingkih hanya di temukan di Pesisir Selatan, sedangkan keberadaan ikan ini di Indonesia belum ada di laporkan.

Kemudian ikan mingkih juga tidak ditemukan pada semua sungai-sungai yang terdapat di Pesisir Selatan, tetapi hanya pada sungai-sungai tertentu saja. Kelangkaan ikan mingkih tidak saja terjadi di Pesisir Selatan, akan tetapi di Philipina ikan ini juga telah menjadi perhatian khusus pemerintaah akibat penurunan populasinya.

Untuk mengatasi terjadi penurunan populasi dan punahnya ikan mingkih yang ada di perairan sungai Kabupaten Pesisir Selatan, maka perlu ditentukan langkah-langkah atau metode untuk konservasi serta pelestariannya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian ikan ini adalah melalui kegiatan budidaya. Budidaya dapat dilakukan apabila ikan ini telah diketahui aspek biologi dan reproduksinya.

Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksiny. Diantara aspek biologi yang perlu diperhatikan dalam budidaya adalah sifat dan jumlah telur yang dihasilkan. Fekunditas dan diameter telur penting untuk diketahui untuk memprediksi stok ikan disuatu perairan. Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya.(Haridman)