Ilyas Ya'coub Pejuang dari Bayang yang Dibuang Belanda Hingga ke Australia
- Mar 22, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Informasi Umum, Webtorial
Penulis : Haridman
Bila Anda ke Painan maka saat pertama kali memasuki kota Anda akan disambut sebuah patung besar di kawasan bundaran. Patung besar itu adalah patung tokoh besar dan putra terbaik yang pernah dimiliki Pesisir Selatan yakni H Ilyas Ya'coub. Lalu patung itu juga menandai bahwa Anda telah memasuki jalan yang juga disebut jalan Ilyas Ya,coub. Jika akanda membelokkan arah jalan anda ke kiri dari patung itu dan terus menuju Gedung Olah Raga, maka disana akan ditemui tulisan besar GOR Ilyas Ya,coub.
Jika ditanya murid sekolah dasar hingga siswa SLTA, merekapun rupanya tidak mengetahui persis tokoh siapa Ilyas Ya'coub tersebut. Nama besar itu rupanya belum tersosialisasi dengan baik. Maka berkenaan dengan itu penulis turunkan tulisan jejak perjalanan Ilyas Ya'cob tersebut. Tokoh ulama dan tokoh pendidikan Islam yang banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam tersebut dirangkum dari bannyak Sumber di Asam Kumbang, Bayang dan literasi yang ada.
Munir (85) warga Asam Kumbang Menyebutkan, ketika ia masih muda pernah menyaksikan Ilyas Ya'cob berpidato di sebuah rapat umum di Asam Kumbang. “Beliau orangnya tenang, namun ketika berpidato ia berhasil membangkitkan semangat juang, tajam, bersemangat dan sering membuat penjajah berang,” katanya.
"Menurut informasi yang kami dapatkan, Almarhum Ilyas Ya'coub sewaktu kecil belajar di kampung halaman. Lalu setelah itu dia berangkat ke Sawah Lunto dan bekerja sebagai sekretaris atau juru tulis di Tambang Batu Bara. Namun tidak tahan melihat penderitaan pekerja di situ ia kembali pulang. Di kampung halaman ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi ke Mesir melanjutkan pendidikan," katanya.
Dan menurut Munir, salah satu pantun orang tua Ilyas Ya'coub yang paling diingatnya saat melepasnya berangkat ke Mesir adalah "Sikujua jo batang kapeh, kambang bungo parawitan, kok mujua mandeh malapeh bak cando ayam pulang kapawiktan".
Ilyas Ya'coub merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Ia merupakan anak dari pasangan suami-isteri Haji Ya'coub dan Siti Hajir. Ilyas Ya'coub masa kecilnya belajar ilmu agama dengan kakeknya Syeikh Abdurrahman. Masa itu Bayang (daerah kelahirannya) masih merupakan sentra pendidikan Islam. Sebab sejak dahulu Bayang termasuk basis pengembangan Islam di Pantai Barat Sumatera berpusat di surau tua didirikan (awal 1666) oleh Syeikh Buyung Muda Puluik Puluik, salah satu dari 6 ulama pengembang Islam di Indonesia seangkatan Syeikh Burhanuddin Ulakan Pariaman belajar dengan Syeikh Abdul Rauf Singkel di Aceh. Sa'at berkobarnya Perang Pauh (mulai 28 April 1666) surau ini juga menjadi dasar perjuangan melawan Belanda.
“Ayah Ilyas Ya'kub seorang pedagang kain dan hidup di lingkungan ulama, cukup memberi peluang dana dan motivasi bagi Ilyas Ya'coub untuk mengecap pendidikan lebih baik. Pertama ia mendapat pendidikan di Gouvernements Inlandsche School. Tamat sekolah ia bekerja sebagai juru tulis selama dua tahun (1917 – 1919) di Perusahaan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto. Ia keluar dari perusahaan itu sebagai protes terhadap pimpinan perusahaan asing yang imperialisme dan kolonialisme dan kejam terhadap kaum buruh pribumi,” katanya.
Dari sejumlah literatur diketahui, saat di Mesir ini Haji Ilyas Ya'coub aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik di antaranya Hizb al-Wathan (partai tanah air) yang didirikan oleh Mustafa Kamal semakin membangkitkan semangat anti penjajah. Ia pernah pula menjabat sebagai ketua Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM) di Mesir. Selain itu ia juga berfungsi sebagai Wakil Ketua Jam'iyat al-Khairiyah dan Ketua Difa` al-Wathan (Ketahanan Tanah Air).
Selain gerakan politik yang sangat peduli dengan nasib bangsanya terjajah Belanda, Haji Ilyas Ya'coub di Mesir juga aktif menulis artikel dan dipublikasikan pada berbagai Surat Kabar Harian di Kairo. Bersama temannya Muchtar Luthfi ia mendirikan dan memimpin Majalah Seruan Al-Azhar dan majalah Pilihan Timur. Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah bulanan pelajar sedangkan majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kedua produk jusnalistik ini banyak dibaca pelajar Indonesia – Malaysia di Mesir ketika itu.
Ia juga sangat aktif dalam dunia menulis dan politik anti penjajah di Mesir. Tulisannya banyak dikirim ke Indonesia dan akhirnya tercium oleh Belanda. Melalui perwakilannya di Mesir, Belanda mencoba menekan sikap radikal Ilyas Ya'kub, tetapi gagal. Sejak itu Belanda mencatatnya sebagai radikalis bahkan dicap sebagai ekstrimis dan musuh Belanda di Indonesia.
Ketika masih dalam ancaman Belanda, tahun 1929 dia kembali dari Mesir, memaksanya transit di Singapura kemudian "nyasar" berlabuh di Jambi.
Di tanah air, ia bertemu teman-temannya di Jawa yang bergerak di PNI dan PSI. Dari pengalaman dua rekan partai tadi (PNI dan Partai Serikat Islam) dia berpikir, bahwa jiwa yang dimiliki partai kedua tersebut, yakni Islam dan kebangsaan adalah penting, dikonversi dan dikonsolidasikan kemudian diwadahi dengan satu wadah yang refresentartif.
Kemudian sekembali dari kunjungannya ke Jawa pada tahun 1930, gerakannya untuk Islam dan persahabatan dilakukan melalui jurnalistik dan politik. Dalam bidang jurnalistik yang diwadahi dengan publikasi pers yakni Tabloid Medan Rakyat.
Kemudian dalam bidang politik ia bersama temannya membangun wadah baru bernama PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dengan asas Islam dan kebangsaan. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan persahabatan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap politik non kooperasi dan tak kenal kompromi dengan bangsa apapun yang kental punya prilaku imperialisme dan kolonialisme. Oleh karena itu pula PERMI secara prinsipil mencap bahwa kapitalisme dan imperialisme merupakan penyebab penderitaan rakyat Indonesia.
PERMI pada awal mula bernama PMI (Partai Muslimin Indonesia) didirikannya tahun 1930. PMI ini berbasis pada lembaga pendidikan Islam Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniyyah. Ide dasarnya, pemberdayaan sekolah agama dengan berbagai inovasi menuju sistem modern, dimulainya perbaikan kurikulum, sistem penjenjangan program dan lama masa pendidikan, memberi perlindungan kepada pelajar serta mengorganisasikan sekolah agama sebagai landasan perjuangan kemerdekaan dan sentra pencerdasan bangsa dengan pengatahuan Islam dan kebangsaan. Kemudian PMI berambisi menambah jumlah sekolah agama dengan membangun sekolah baru dengan sistem modern, mulai dari tingkat pendidikan dasar (ibtidaiyah) sampai pendidikan tinggi (al-Kulliyat).
Di antara pendidikan tinggi, di Alang Laweh, 12 Pebruari 1931 didirikannya perguruan tinggi dalam bentuk perguruan tinggi Islam untuk diploma A dan diploma B, bernama Al-Kulliyat Al-Islamiyah, diasuh jebolan intelektual Timur Tengah di antaranya Janan Thaib (sebagai pemimpin), Syamsuddin Rasyid (onder direktur) dan Ilyas Ya'coub. Siswa awal menerima lulusan Sumatra Thawalib, Sekolah Diniyyah, Tarbiyah Islamiyah, AMS (Algemeene Middelbare School), Sekolah Schakel dan lulusan sekolah tingkat menengah lainnya.
Tahun 1932 PMI mengadakan konsolidasi. Partai ini menyadari perjuangan Islam dan kebangsaan perlu dikokohkan baik internal maupun eksternal. Konsolidasi PMI merupakan bagian kesadaran bagi penguatan lembaga ke-Islam yang menunjang visi Islam dan kebangsaan Indonesia. Konsolidasi dilakukan dalam bentuk Kongres Besar yang bertempat di dekat daerah kelahiran Ilyas Ya'coub yakni Koto Marapak (Bayang Pesisir Selatan) yang dihadiri oleh seluruh pengurus cabang se Sumatera seperti dari Tapanuli Selatan, Bengkulu, Palembang, Lampung dll. Di antara keputusan Kongres Besar, PMI dirubah namanya menjadi PERMI yang mencap Belanda sebagai partai Islam radikal revolusioner. Kantornya di Gedung Perguruan Tinggi Islam, Alang Lawas, Padang.
Karena pembangkang Belanda, Ilyas Ya'coub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan. Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya. Selama di Digul Haji Ilyas Ya'kub didampingi isteri Tinur sering sakit-sakitan.
Masa awal penjajahan Jepang di Indonesia pun, para penduduk Digul semakin memprihatinkan, mereka dipindahkan lagi ke daerah pedalaman Irian Jaya di Kali Bina Wantaka kemudian diasingkan pula ke Australia. Ia selalu dibujuk Van Der Plas dan Van Mook (Belanda), namun semangat nasionalis dan Islamnya tidak pernah pudar memotivasi pembangkangannya dalam melawan penjajah dan mendorong terwujudnya kemerdekaan Indonesia.
Oktober 1945 pemulangan para tahanan perang dari Australia ke Indonesia dengan Experence Bey Oktober, Haji Ilyas Ya'coub tidak turun di pelabuhan Tanjung Periuk, bahkan ia kembali ditahan dan diasingkan bersama isteri selama 9 bulan berangkat-pindah di Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Labuhan, Singapura (anaknya iqbal meninggal di sana).
Satu tahun Indonesia merdeka (1946) barulah habis masa tahanan dan Dia kembali bergabung dengan kaum republik sekembalinya dari Cerebon. Ia ikut bergrillya di angkatan II (1948) dan ikut membentuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara.
Ia mendapat tugas menghimpun kekuatan politik (seluruh partai) di Sumatera untuk melawan agresor Belanda. Tahun itu ia menjabat Ketua DPR Sumatera Tengah kemudian terpilih lagi menjadi anggota DPRD wakil Masyumi dan diangkat menjadi penasehat Gubernur Sumatera Tengah bidang politik dan agama.
Ilyas Ya'coub menghembuskan nafas terakhir Sabtu, 2 Agustus 1958 jam 18.00 wib, ia meninggalkan 11 orang anak. Ia dimakamkan di depan Mesjid Raya Al-Munawarah Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Lalu makamnya pada Minggu 4 November 2012 dipindahkan dari depan masjid Amunawarah ke Kapelgam Bayang Pesisir Selatan.