"Kartini" Berpenakan Martil : Habis Gelap, Terbitlah ???
- Apr 21, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Informasi Umum
Bekerja sebagai mengangkat martil kemudian menghempaskan kebatu besar bukanlah keinginan "Kartini" yang satu ini. Bernama Rosni (50), wanita ini merupakan salah satu wanita yang harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Perjuangan emansipasi wanita yang peringatannya diperingati setiap 21 April tersebut, belum menyentuh kehidupan wanita ini. Ia bekerja jauh dari kodrat wanita pada umumnya, mengangkat martil sebrat satu kilogram harus dilakoninya.
Rosni, yang ketika muda bercita cita ingin menjadi guru atau Polwan tersebut harus, mengikuti pilihan pahit untuk dapat mengasapi dapur, karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan selain bersawah dan memecah batu. Pekerjaan tukang pecah batu, setidaknya bisa membuat ia terus bekerja sepanjang hari meskipun harus membanting tangkai kayu berujung besi itu. Setidaknya Ia tidak pernah kehilangan lapangan pekerjaan, karena memang tidak banyak warga yang mau mengerjakan ini.
Warga Limau Gadang, Nagari Lumpo Kecamatan IV Jurai ini, bila musim kesawah tiba, tetap pula melaksanakan pekerjaan di sawah yang luasnya tidak seberapa. Lepas dari aktifitas kesawah, semua hari harinya diisi dengan memecah batu kemudian dijual dengan hasil bisa untuk membiayai hidupnya.
Dipilihnya batu di pinggir sungai, jika memperoleh batu ukuran sebesar kelapa, adalah sebuah keuntungan baginya, paling tidak batu tersebut dapat langsung dipungutnya tanpa harus dipecah terlebih dahulu. Namun menurutnya, batu yang ada di kampungnya tersebut, rata rata berukuran besar dan harus di gebug dulu baru bisa dijual.
Menurutnya, khusus untuk batu berukuruan besar ada penanganan tersendiri. Biasanya sebelum di pecah, dibakar terlebih dahulu. Tujuannya, agar batu menjadi lebih mudah untuk di pecah. Menurutnya, untuk memecah dengan martil juga ada tekhnik tersendiri, ia tidak bisa di gedor begitu saja. "Pengerjaan memecah batu, saja mulai dengan memukul sisi sisinya yang tajam dan menonjol, sehingga nanti akan mudah pecah," ujar Rosni lagi.
Batu yang telah dipecah tersebut, di tumpuk rosni pada tempat yang telah ia sediakan. Batu batu tersebut di onggok sesuai dengan pesanan pembeli. "Ada yang berukuran satu kubik, ada pula yang lebih. Jadi tergantung permintaan," ujar Rosni.
Selain permintaan, biasanya batu batu tersebut di jemput oleh mobil pick up. "Satu kubik batu, baik hasil pecahan maupun batu yang tidak dipecah di jual seharga Rp 40 hingga 60 ribu," katanya. Hargapun, kata Rosni, sangat tergantung kepada kebutuhan dan permintaan. Bila permintaan tinggi, batu sedikit harga biasanya naik. Bahkan untuk waktu waktu tertentu, sejumlah mobil telah antri untuk mendapatkan batu.
Rosni menyebutkan, ia sangat menginginkan pekerjaan yang layak. Namun tidak tahu entah sampai kapan dapat pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang membuatnya sebagai wanita tidak mengangkangi kodrat.
"Misalnya membuka usaha perdagangan atau usaha bordir dan menjahit, namun saya tidak punya ilmu dan modal. Ah tampaknya habis gelap terbit terang belum berlaku bagi saya, malah malang sepanjang hari," ujarnya.(har)