KEHATI Gelar Forum Nasional Untuk Penguatan Jejaring Mitra
- Feb 02, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Informasi Umum
Yogyakarta — Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi dan dampak program konservasi dengan menyelenggarakan kegiatan “ Share Learning & Penguatan Jejaring Mitra KEHATI” pada 12–16 Januari 2026 di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang temu bagi 27 mitra implementasi hibah KEHATI dari berbagai daerah di Indonesia untuk saling belajar, berbagi praktik dengan baik, serta menyusun strategi ke depan dalam pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Selama lebih dari tiga dekade, KEHATI telah menghimpun dan menyalurkan dana hibah lebih dari USD 200 juta dari berbagai sumber, termasuk donor multilateral dan bilateral, sektor swasta, dana abadi, filantropi, serta penggalangan dana publik. Dana tersebut dikelola bersama lebih dari 1.500 mitra lokal yang tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan fokus pada tiga ekosistem utama—kehutanan, pertanian, dan kelautan—serta isu lintas ekosistem seperti perubahan iklim, advokasi kebijakan, dan program pembangunan.

Haridman, Ketua POKASWAS LPPL
Forum Share Learning dirancang sebagai ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat koordinasi antar mitra, meningkatkan kolaborasi lintas wilayah dan isu, serta mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman lapangan yang telah dijalankan. Direktur Program KEHATI, Rony Megawanto, menyampaikan bahwa pengalaman dan pembelajaran mitra di tingkat tapak merupakan aset penting bagi kerinduan program konservasi. “Pengetahuan yang lahir dari praktik lapangan perlu dirawat dan dicairkan agar dapat menjadi rujukan bagi program dan mitra lainnya di masa depan,” ujarnya.
Solusi Berbasis Alam
Salah satu sesi kunci dalam kegiatan ini adalah pemaparan Rencana Strategis (Renstra) KEHATI 2024–2029 dan pendekatan Nature-based Solutions (NbS ) atau solusi berbasis alam . Dalam paparannya, Rony menjelaskan enam area intervensi KEHATI, yaitu penguatan kelembagaan KEHATI; peningkatan kapasitas organisasi masyarakat sipil (CSO) lokal; pemaksaan dan diversifikasi sumber-sumber pendanaan; investasi berkelanjutan dan penguatan sektor finansial; penyadartahuan masyarakat sasaran; serta advokasi tata kelola publik. Area Keenam ini menjadi landasan bersama bagi mitra dalam merancang dan mengimplementasikan program yang berdampak dan berkelanjutan.
Rony juga menjelaskan bahwa NbS merupakan pendekatan yang dikembangkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan telah diadopsi oleh United Nations Environment Assembly (UNEA) . Pendekatan ini memanfaatkan ekosistem sebagai solusi atas tantangan sosial dan lingkungan, dengan prinsip bahwa upaya konservasi harus berjalan seiring dengan manfaat nyata bagi masyarakat. NbS relevan untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, ketahanan pangan dan udara, pembangunan ekonomi masyarakat, hingga pencegahan degradasi lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Untuk memastikan keselarasan program dengan prinsip NbS , disampaikan tiga pertanyaan kunci, yaitu apakah proyek bertujuan memulihkan, mengelola, atau melestarikan ekosistem dan jasa ekosistem; apakah proyek dirancang untuk menjawab tantangan sosial, bukan semata-mata konservasi; serta apakah program memberikan manfaat nyata bagi keanekaragaman hayati.

Puti Lathifa, Staf Keuangan POKMASWAS LPPL
Pembelajaran Lapangan
Selain diskusi konseptual, kegiatan ini juga diisi dengan pembelajaran lapangan melalui kunjungan ke Badan Usaha Masyarakat Desa (BUMDes) Argo Inten Menoreh, Magelang , Jawa Tengah, yang menampilkan praktik pengelolaan berbasis masyarakat dengan mengintegrasikan konservasi, ekonomi lokal, dan penguatan kelembagaan. Peserta juga mendapatkan penguatan kapasitas melalui sesi penyusunan proposal dan kerangka logistik , pengelolaan keuangan hibah, penghentian proyek, pemanfaatan pembukaan lahan terbuka , serta program komunikasi strategi dan publikasi.
Materi akan datangnya proyek penting pentingnya nilai tambah agar manfaat program tetap dirasakan oleh masyarakat setelah hibah berakhir. Sesi open peta menampilkan bagaimana peta terbuka dapat mendukung transparansi dan pelaporan program, termasuk dalam proyek rehabilitasi mangrove. Sementara itu, sesi komunikasi dan publikasi mendorong mitra untuk membingkai dampak kerja lapangan secara strategis melalui cerita perubahan dan visual yang kuat.
Melalui forum Share Learning ini, KEHATI berharap pencerahan pemahaman bersama mengenai pencapaian dan tantangan program, serta semakin kuatnya jejaring kolaborasi antar mitra. Dengan pembelajaran bersama dan penguatan jaringan, upaya konservasi keanekaragaman hayati diharapkan tidak hanya berdampak pada tingkat lokal, tetapi juga berkontribusi pada agenda keberlangsungan yang lebih luas bagi alam dan masyarakat Indonesia.(KEHATI)