Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 1)
- Apr 24, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Informasi Umum
Ditulis Oleh : Bung Edy Djambak
LPPL Tahun 2013-2015
Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPP) Amping Parak adalah sebuah komunitas pegiat lingkungan di Nagari Amping Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. Hingga tulisan ini diturunkan, komunitas ini sudah berumur 13 tahun dan tetap eksis dan konsisten hingga sekarang dengan kegiatan lingkungan. Lalu apa aksi lingkungan pertama yang mereka lalukan? Berikut penulis coba uraikan.
LPPL memulai aktivitas lingkungan pada tahun 2013 dengan melaksanakan penghijauan di Pantai Pasar Ampinga Parak. Se kelompok pemuda ini awalnya menanam bibit pohon ketapang yang diperoleh dari mengumpulkan buah ketapang lalu meyemaikan di polybag. Pada saat itu LPPL belum mengenal jenis pohon atau tanaman yang cocok untuk ditanam di pantai, sehingga pilihannya jatuh pada pohon ketapang yang mudah diperoleh.

Setelah bibit pohon ketapang berumur 6 bulan, anggota kelompok mulai melakukan persiapan penanaman dengan menyiapkan pagar hingga pengangkutan bibit pohon ketapang dengan rakit ke pantai (karena pantai dipisah oleh aliran muara).
LPPL kemudian berhasil melakukan penghijauan dan perawatan pantai dengan swadaya. Total panjang pantai 2,9 kilo meter yang berada di kawasan Pasar Amping Parak. Garis pantai dengan panjang 2,9 Km tersebut diapit oleh danau (muara yang sudah buntu) dengan luas 25 hektar.

Berdasarkan keterangan Haridman tokoh pendiri LPPL menyebutkan, Pantai Amping Parak ketika itu adalah lahan tandus. Selain tandus ada pula ancaman serius yang mendorong kegiatan ini harus terlaksana yakni megatrust mentawai dengan potensi gempa 8,9 SR dan juga berpotensi tsunami. Amping Parak benar-benar berada di zona merah tsunami tanpa ada pelindung "sehelai benangpun".
“Melihat kondisi lingkungan pantai yang tidak terdapat pohon pelindung tersebut, sekelompok pemuda yang menamakan dirinya LPPL Amping Parak melakukan upaya dan aksi lingkungan. Kelompok pemuda itu melakukan perbaikan lingkungan pantai dengan mengadakan gotong-royong secara berkala. Mulai dari menanam hingga merawat,” ungkap Haridman.
Selanjunya Yeyan Koordinator Lapangan Penanaman ketika awal kegiatan dirintis menyebutkan, LPPL ketika itu yang beranggotakan pemuda telah berhasil melakukan penghijauan pantai dengan menanam pohon ketapang dan tanaman lainnya di kawasan pantai. Kegiatan ini murni dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan pantai di Amping Parak.
"Bibit pohon pelindung diusahakan sendiri. Seluruh pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan swadaya. Pemuda yang sudah tergabung di LPPL dengan sukarela membaktikan diri untuk penghijauan pantai. Selain itu LPPL juga memindahkan dan merawat pohon- pohon kecil yang tumbuh alami di pinggir muara," katanya.

Pada periode tahun 2013-2015 menurutnya, kawasan yang sudah berhasil ditanami bibit ketapang sepanjang 500 meter dari 2,9 kilometer yang harus ditanam. Seluruh tanaman pada areal 500 meter telah dipagar dengan bahan-bahan yang diperoleh di kawasan terdekat. Pemuda penggagas penghijauan pantai itu terdiri dari : Andi, Jes, Dino, Sepriadi, Rino dan Isul, Sigit, semuanya bekerja tanpa pamrih.
Disebutkannya, selain penanaman, LPPL juga melakukan aksi pembersiham kawasan pantai dan muara dengan peralatan sederhana berupa rakit (getek) yang digerakkan dengan dayung secara berkala.
“Harapan kami sederhana saja, dengan semangat gotong royong yang dimiliki, kami berharap lingkungan pantai Amping Parak terjaga dan meningkatkan kualitas lingkungannya. Bila pantai rindang dan hijau, ikan-ikanpun akan semakin dekat ke tepi, hal ini akan menguntungkan nelayan setempat. Kedepan kami juga punya rencana menjadikan kawasan itu sebagai pusat konservasi penyu,” katanya.(Bersambung)
Catatan : Bung Edy Djambak adalah Aktivis Lingkungan Amping Parak