Setiap tahun, selalu ada ritual adat di Istana atau Rumah Gadang Mandeh Rubiah di Lunang Kecamatan Lunang Silaut Pesisir Selatan. Ritual itu dilaksanakan di bulan baik yakni hari Lebaran. Ritual tersebut disebut Ninik Mamak Nan Salapan mengunjungi (manjalang) istana atau Rumah Gadang Mandeh Rubiah.
Rakena (65), Mandeh Rubiah ke-VII Jumat (2/9) lalu menyebutkan, tradisi ini telah berlangsung lama, semenjak zaman Bundo Kanduang (Mandeh Rubiah I) mulai mejadikan kawasan ini sebagai kerajaan.
Berdasarkan pantauan KIM , kegiatan dimulai dengan arak arakan dari Kantor KAN Lunang dengan diawali tembakan salvo. Arak arakan terdiri dari rombongan Ninik Mamak Nan Salapan lengkap dengan atribut dan bendera kebesaran.
Dibelakang Ninik Mamak Nan Salapan terdapat barisan Alim Ulama, Pemerintah Kecamatan, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, Pemuda dan diiringi ratusan jamba. Iring iringan tersebut sesampai di Gerbang Rumah Gadang, menegun sejenak dan menunggu tembakan salvo ke dua. Setelah itu rombongan kembali bergerak menuju Rumah Gadang.
Baca Juga: Ketupat Kuliner Legendaris dari Kambang
Sesampai dihalaman Rumah Gadang Mandeh Rubia VII menyabut di depan pintu Istana yang berdiri megah itu. Rombongan kembali berhenti bergerak, Mandeh Rubiah pada saat itu menyambut para Ninik Mamak dan Rombongan sambil mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1423 Hijriah, Mohon Maaf Lahir Bathin".
Rombongan kemudian duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Pada Prosesi adat itu, sejumlah tokoh berkesempatan menyampaikan ucapan dua patah kata. Diantaranya, Darwis Camata Lunang Silaut, Ketua KAN, Wali Nagari dan Pemuka Masyarakat.
Selanjutnya kegiatan manjalang Rumaha Gadang dilanjutkan dengan menaiki rumah. Ninik Mamak Nan Salapan naik ke Istana Bundo Kanduang tersebut diiringi oleh pilar nagari lainnya. Pada kesempatan itu ada sisombah, makan dan ditutup dengan do'a selamat.
Baca Juga: Harta Pusaka Minangkabau Ditegakkan Sesuai Aturan Adat
Makna dari tradisi ini menurut Mandeh Rubiah VII adalah untuk membangun tali silaturrahmi antara Ninik Mamak dengan segenap anak kemenakan di hari fitrah. “Pada ritual ini yang ingin dicapai adalah pensucian diri pasca Ramadhan berlalu,” kata Mandeh Rubiah.
Ziarah ke Makam Mande Rubiah sudah menjadi tradisi rutin berkesinambungan bagi masyarakat Kenagarian Lunang Silaut. Hal ini disebabkan karena masyarakat sangat teguh memegang adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Menurut mereka, petua-petua nenek moyang akan membahayakan negeri mereka. Tradisi ziarah kubur Mande Rubiah, merupakan suatu kepercayaan masyarakat yang begitu besar terhadap Mande Rubiah, sehingga bagi masyarakat Lunang Silaut rutin melakukan ziarah ke Makam Mande Rubiah setidak-tidaknya satu kali dalam setahun.
Keunikan tradisi ziarah kubur Mande Rubiah adalah orang yang datang berziarah ke makam Mande Rubiah pada umumnya untuk membayar nazar dan untuk meminta obat pada Mande Rubiah yang sekarang, karena Mande Rubiah yang sekarang masih keturunan Mande Rubiah yang pertama. Masyarakat menganggap Mande Rubiah yang pertama itu keramat hingga sampai pada Mande Rubiah yang sekarang masih tetap mengira keramat. Menurut Mantan Wali Nagari Lunang B.Mp.Dt. Rajo nan Sati, silsilah Mande Rubiah itu adalah Bundo Kanduang (yang di sebut masyarakat Mande Rubiah yang pertama), ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bergelar bujang air dan dari Bujang Air menpunyai anak perempuan dari anak perempuan itulah lahir Mande Rubiah yang sekarang. Masyarakat menghormati Mande Rubiah yang sekarang karena menurut kepercayaan masyarakat Mande Rubiah adalah seorang panutan dan sebagai pemimpin spiritual bagi masyarakat Lunang Silaut.
Menurut keterangan H. Dukun Bujang Sabaleh Sutan Maruhum, “di antara kekeramatan Mande Rubiah adalah di samping pandai mengobati orang sakit, juga bisa memahami bahaya yang akan terjadi di daerah tersebut dan mengetahui siapa yang akan berkunjung ke rumahnya.
Begitupun dengan Mande Rubiah yang sekarang, menurut keterangan Bungan (Penjaga rumah gadang Mande Rubiah). enam puluh orang.
Oleh kelebihannya itu maka orang-orang membayangkan keramat, bahkan sampai kepada keturunannya yaitu Mande Rubiah yang sekarang orang masih membayangkan keramat
Adapun pelaksanaan ziarah kubur ke Mande Rubiah yaitu pada hari kedua lebaran Idul Fitri dan pada hari Jum'at namun tidak tertutup kemungkinan ziarah dilaksanakan pada hari-hari biasa.

Dengan adanya tradisi ke Makam Mande Rubiah dapat menarik wisatawan untuk datang ke sana, sehingga menjadikan aset pariwisata bagi kabupaten pesisir selatan. yang menjadi permasalahan di sini adalah bagaimana tradisi ke Makam Mande Rubiah, mengapa orang melakukan ziarah ke kubur Mande Rubiah apa faktor yang memotivasi masyarakat Lunang Silaut untuk ziarah ke Makam Mande Rubiah dan bagaimana pandangan ziarah kubur ke Makam Mande Rubiah di tinjau dari segi aqidah. Karena penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Sebab-sebab penyimpangan aqidah yang salah, salah satunya adalah Ta'ashabub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan Neneknya, meskipun hal itu batil, dan mencampak kan apa yang menyalahi nya meskipun hal itu benar