Kolaborasi Konservasi untuk Manusia dan Alam yang Lestari di Sulteng

  • Feb 04, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Flora & Fauna

Provinsi Sulawesi Tengah adalah salah satu permata keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan luas mencapai hampir 6,2 juta hektar, wilayah ini menjadi rumah bagi hutan tropis, ekosistem pesisir yang kaya, dan lahan subur yang menopang kehidupan sekitar 3,15 juta jiwa.

Provinsi ini memiliki potensi yang luar biasa, mulai dari hasil laut melimpah hingga komoditas perkebunan unggulan seperti kakao, kopi, dan durian. Terlebih lagi, lokasinya yang strategis dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadikannya penyangga penting bagi ketahanan pangan nasional di masa depan.

Namun, kekayaan alam ini menghadapi berbagai ancaman seperti penambangan, penebangan liar, dan penangkapan ikan yang merusak. Selain itu, dampak perubahan iklim dan ancaman bencana alam, telah menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. 

Melihat isu ini, Proyek SOLUSI (Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia), kemitraan antara pemerintah Indonesia (BAPPENAS) dan Jerman (BMUV) melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI), hadir sebagai jawaban. Proyek ini bertujuan

Untuk mengatasi degradasi lahan dan bentang laut di Indonesia, dengan meningkatkan ketahanan ekosistem, serta mendorong mata pencaharian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Sebagai bagian dari konsorsium SOLUSI, Yayasan KEHATI memainkan peran kunci dalam menerjemahkan tujuan proyek menjadi aksi di tingkat tapak. Strategi KEHATI berfokus pada peningkatan tutupan lahan melalui restorasi mangrove dan rehabilitasi hutan dataran rendah, sekaligus menyelaraskan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan ekowisata, agroforestri, pengelolaan sampah berbasis desa, serta penyusunan panduan investasi hijau untuk keberlanjutan jangka panjang.

Dari Strategi ke Aksi: Mitra Lokal Memimpin

Untuk memastikan program berjalan efektif di tingkat tapak, Yayasan KEHATI menggandeng Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lokal yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi sosial dan ekologis wilayahnya. Di Sulawesi Tengah, dua mitra utama yang menjadi ujung tombak implementasi adalah:

Melalui hibah dari KEHATI, kedua OMS ini melaksanakan kegiatan lapangan yang secara langsung berkontribusi pada tujuan proyek SOLUSI, khususnya Output III (Laboratorium Perencanaan LaS) dan Output IV (Pengembangan Kapasitas dan Manajemen Pengetahuan).

ROA: Membangun Harmoni di Sigi, Parigi Moutong, dan Palu

Perkumpulan ROA bekerja secara terintegrasi pada lanskap darat yang berdampak langsung pada kesehatan pesisir, dengan fokus di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Intervensi mereka mencakup:

  • Restorasi Ekosistem: Merehabilitasi 15 hektar hutan dataran rendah (lahan kritis) pada Tahura Kapopo dan Desa Oncone Raya dengan pendekatan agroforestri dan penanaman spesies endemik. Serta merehabilitasi 3 hektar ekosistem mangrove di pesisir Desa Oncone Raya.
  • Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat: Memfasilitasi penyusunan rencana pengelolaan kawasan perhutanan sosial di Desa Oncone Raya dan rencana pengelolaan kolaboratif pada Tahura Kapopo, menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan konservasi.
  • Revolusi Sampah Desa: Mendorong inisiasi bank sampah dan sistem pengelolaan terpadu di lima desa/kelurahan (Desa Oncone Raya, Desa Ngata Baru, Desa Loru, Kelurahan Poboya, dan Kelurahan Kawatuna) untuk mengubah sampah menjadi sumber ekonomi sirkular.
  • Pengembangan Usaha Berbasis Alam: Mempromosikan silvofishery (budidaya ramah mangrove), mengembangkan potensi ekowisata, dan melatih kelompok lokal dalam mengolah produk alam.

Sebagai langkah nyata dari komitmen pelestarian yang dikerjakan oleh ROA, sebanyak 2.000 bibit mangrove telah mulai ditanam pada 27 Juli 2025 lalu sekaligus menjadi momentum perayaan Hari Mangrove Sedunia. Kegiatan yang merupakan tahap awal rehabilitasi pesisir Pantai Marina ini turut dihadiri oleh perwakilan Bupati Parigi Moutong, Aswini Dimple.

Pada acara tersebut, Aswini mengajak semua elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya keberadaan mangrove serta konservasi ekosistem pesisir. “Dengan semangat gotong royong dan kepedulian bersama kita dapat mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang,” ujar Aswini.

YKL Indonesia dan YBB: Menjaga Pesisir Donggala

Bergeser ke Kabupaten Donggala, semangat serupa digerakkan oleh YKL Indonesia dan YBB yang fokus memulihkan hubungan vital antara ekosistem pesisir yang sehat dan masyarakat yang sejahtera. Inisiatif holistik mereka meliputi:

  • Rehabilitasi Mangrove: Merehabilitasi 25 hektar hutan mangrove yang terdegradasi di enam desa (Desa Tolongano, Desa Lalombi, Desa Lompio, Desa Tompe, Kelurahan Labuan Bajo, dan Desa Tanjung Batu), yang berfungsi sebagai perisai alami terhadap abrasi dan area pemijahan ikan. Metode yang digunakan adalah gabungan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR)Assisted Natural Regeneration (ANR), penaman langsung dan penyebaran bibit di lokasi yang sesuai.
  • Perlindungan Spesies Terancam: Mendorong area perlindungan bagi penyu hijau dan penyu sisik di Desa Lalombi dengan memetakan lokasi bersarang dan mendukung penyusunan aturan perlindungan lokalnya.
  • Mengubah Sampah Jadi Sumber Daya Ekonomi: Membangun sistem pengelolaan sampah terpadu yang berpusat pada bank sampah komunitas untuk mengurangi polusi plastik di laut. Inisiatif ini memberdayakan rumah tangga untuk menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mengubah sampah menjadi sumber daya ekonomi.
  • Membangun Mata Pencaharian Hijau: Mengembangkan sumber pendapatan alternatif seperti ekowisata mangrove dan budidaya kepiting berkelanjutan yang selaras dengan upaya konservasi.

Serupa dengan ROA, YKL Indonesia dan YBB juga merayakan Hari Mangrove Sedunia pada 27 Juli 2025 lalu dengan melakukan seremonial penanaman mangrove di Desa Lalombi. Acara ini menjadi titik awal untuk kegiatan penanaman mangrove yang akan dilanjutkan di lima desa lainnya di Kabupaten Donggala, menunjukkan sebuah gerakan kolektif untuk masa depan pesisir Sulawesi Tengah yang lebih baik.

Visi Bersama untuk Sulawesi Tengah yang Berkelanjutan

Upaya ROA dan YKL Indonesia-YBB lebih dari sekadar serangkaian kegiatan terpisah; keduanya merupakan benang-benang dalam jalinan yang lebih luas yang dijalin oleh proyek SOLUSI. Dipandu oleh strategi implementasi KEHATI, perjalanan ini bertujuan untuk menciptakan masa depan di mana hutan dan pesisir Sulawesi Tengah tidak hanya dilindungi tetapi juga menjadi mesin produktif pembangunan berkelanjutan. 

Ini adalah masa depan di mana masyarakat diperlengkapi untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, dan di mana keanekaragaman hayati yang kaya di wilayah yang luar biasa ini dilestarikan untuk generasi mendatang.

Melalui kolaborasi dari skala nasional hingga akar rumput, Proyek SOLUSI di Sulawesi Tengah membuktikan bahwa pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. (KEHATI.OR.ID)

#SOLUSIDaratLautLestari