Konservasi Penyu Sisik
- Mar 23, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Flora & Fauna
Konservasi
Sebuah konsensus telah menunjukkan bahwa penyu laut, termasuk E. imbricata, berjumlah sangat sedikit.
Spesies tersebut terancam karena pertumbuhan dan kedewasaan mereka rendah, serta tingkat reproduksi mereka rendah. Kebanyakan penyu dewasa telah dibunuh oleh manusia, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.
Selain itu, manusia dan hewan mengancam tempat sarang mereka, dan mamalia kecil membawa pergi telur-telur tersebut.
Di Kepulauan Virgin AS, garangan menyerbu telur-telur milik penyu sisik (bersama dengan milik penyu lainnya, seperti Dermochelys coriacea) setelah mereka letakkan.
Pada tahun 1982, IUCN Red List untuk Spesies Terancam pertama kali memasukkan E. imbricata sebagai spesies terancam.[60] Status terancam tersebut berkali-kali dikatakan dalam beberapa pengumuman pada 1986, 1988, 1990, dan 1994 sampai hewan tersebut dipindahkan dalam status kritis pada 1996.
Sebelumnya, dua petisi menetapkan statusnya sebagai spesies terancam yang mengklaim bahwa penyu tersebut (bersama dengan tiga spesies lainnya) memiliki beberapa ketetapan signifikan terkait populasi tersebut di dunia.
Petisi tersebut ditolak berdasarkan analisis mereka terhadap data yang diajukan oleh Marine Turtle Specialist Group (MTSG). Data tersebut diberikan oleh MTSG yang menunjukkan populasi penyu sisik di dunia telah menurun sebanyak 80% dalam tiga generasi terbaru, dan tidak ada peningkatan signifikan pada jumlah populasi-nya pada tahun 1996.
Namun status CR A2 ditolak karena IUCN tidak menemukan data yang cukup untuk menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah lebih dari 80% pada masa depan.
Spesies tersebut (bersama dengan seluruh anggota keluarga Cheloniidae) masuk pada Lampiran I dari Convention on International Trade in Endangered Species. Mengimpor atau mengekspor produk penyu, atau membunuh, menangkap, atau mengusik penyu sisik adalah tindakan yang dianggap ilegal.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi juga telah meningkat pada beberapa tahun terakhir.[butuh rujukan]
United States Fish and Wildlife Service dan National Marine Fisheries Service mengklasifikasikan penyu sisik sebagai spesies terancam dibawah Undang-Undang mengenai Spesies Terancam sejak 1970. Pemerintahan AS mendirikan beberapa rencana pemulihan untuk melindungi E. imbricata.
Salah satu jenis penyu yang mendarat dan di konservasi di Amping Parak adalah penyu sisik. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae.
Penyu ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya. Spesies ini memiliki persebaran di seluruh dunia, dengan dua subspesies terdapat di Atlantik dan Pasifik. E. imbricata imbricata adalah subspesies di Atlantik, sedangkan E. imbricata bissa adalah subspesies di wilayah Indo-Pasifik.
Penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Penyu ini umumnya memiliki bentuk tubuh yang datar, dengan sebuah karapaks sebagai pelindung, dan sirip menyerupai lengan yang beradaptasi untuk berenang di samudra terbuka.
Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air.
Walaupun penyu ini menghabiskan separuh hidupnya di samudra terbuka, sesekali mereka juga mendatangi laguna yang dangkal dan terumbu karang.
Praktik memancing yang dilakukan oleh manusia menyebabkan populasi E. imbricata terancam punah. World Conservation Union mengklasifikasikan penyu sisik sebagai spesies kritis.
Cangkang penyu sisik adalah sumber utama dari material cangkang kura-kura yang digunakan untuk bahan dekorasi atau hiasan.
Convention on International Trade in Endangered Species melarang penangkapan dan penjualan penyu sisik maupun produk-produk yang berasal darinya.(Wikipedia/Kompasnagari)