Laut, Ekonomi Biru, dan Masa Depan Sumatera Barat
- Mar 13, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Oleh : FB Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar
Kadang ide besar tidak lahir dari ruang rapat yang penuh protokol. Ia justru muncul dari obrolan santai, dari secangkir kopi, dan dari orang-orang yang sama-sama memikirkan masa depan daerahnya.
Itulah yang saya rasakan suatu malam di kawasan Ulak Karang. Di sebuah ruang kreatif yang dikenal sebagai Star Up Mak Etek, kami berbincang santai tentang laut dan masa depan ekonomi Sumatera Barat.
Yang hadir bukan orang sembarangan. Ada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat, Syefdinon. Ada juga pegiat ekonomi kreatif dan pariwisata,
Muhammad Zuhrizul. Percakapan semakin menarik karena ikut bergabung Yulviadi Adek, salah satu direktur di Indonesia Creative City Network.
Tidak ada podium. Tidak ada presentasi panjang. Hanya diskusi ringan yang mengalir.
Namun dari obrolan santai itu, satu hal terasa jelas: laut Sumatera Barat menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, tetapi belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Padahal, jika melihat peta wilayah, provinsi ini memiliki garis pantai panjang, pulau-pulau kecil yang indah, serta budaya pesisir yang kuat. Potensi ini bukan hanya soal perikanan, tetapi juga pariwisata, ekonomi kreatif, hingga olahraga berbasis wisata.
Di sinilah konsep ekonomi biru menjadi penting.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Belgia, Gunter Pauli. Intinya sederhana: memanfaatkan sumber daya laut untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap menjaga kelestarian ekosistemnya.
Dengan kata lain, laut tidak boleh hanya diambil manfaatnya. Laut harus dijaga agar tetap hidup dan produktif.
Bagi Indonesia, gagasan ini sangat relevan. Lebih dari 70 persen wilayah negara ini adalah lautan. Artinya, masa depan ekonomi Indonesia sangat berkaitan dengan bagaimana laut dikelola.
Dalam diskusi itu, Syefdinon menegaskan bahwa laut tidak lagi bisa dipandang hanya dari sektor perikanan. Pengelolaan laut harus lebih luas: mulai dari budidaya laut, konservasi ekosistem, hingga pariwisata bahari.