Mengurai Mimpi Mimpi Warga di Mudik Lakitan
- Jun 02, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Laporan Haridman Kambang
Lakitan telah terbelah menjadi lima nagari. Namun yang paling menarik adalah nagari dan kampung yang terdapat dekat di hulu Lakitan atau orang disini menyebutnya Mudik Lakitan. Apa sebab? Kawasan mudik ini kini sedang dalam pertumbuhan lahan ekonomi sangat baik, namun terkendala dengan minusnya sarana dan prasarana.
Dari satu kampung ke kampung lain warga tidak dapat berjalan dengan bebas. Hal itu terjadi selain disebabkan topografi juga disebabkan letak geografis kampung yang dipisahkan perbukitan dan sungai. Kampung yang terjebak oleh kekurangan tersebut adalah Kampung Koto Lamo, Kampung Air Kalam dan Tanjung Durian.
Awalnya mata pencaharian warga disana hanya bergantung pada bercocok tanam padi sawah dan peternakan rakyat. Rupanya belakangan menjamur perkebunan sawit, kakao dan karet. Di Koto Lamo terdapat sekitar 75 hektar sawah dan sebagiannya kini berubah menjadi lahan sawit, sehingga lahan sawit sudah mencapai 73 ha, karet 27 ha, kakao 1 ha dan pala 1 ha. Di Air Kalam luas pertanian 65 ha, kebun sawit 25 ha, kakao 5 ha dan pala 1 ha. Di Tanjung Durian luas lahan pertanian 75 ha, sawit 13 ha, karet 253 ha dan pala 1 ha.
Rupanya setelah ditelisik, prasarana dasar yang perlu dilengkapi pemerintah kabupaten di kampung kampung tersebut adalah sarana transportasi. Inilah yang menjadi mimpi mimpi masyarakat setempat semenjak nagari dibuat.
Persoalan di Koto Lamo adalah buruknya infra srtuktur. Jalan ke kawasan yang sedang berkembang itu sangat tidak menguntungkan. Biaya angkut berbagai hasil pertanian sangat besar, bayangkan satu kilogram sawit saja harus mengeluarkan ongkos Rp300. Begitu pula biaya angkut yang lainnya. Dan yang paling menyedihakan adalah jalan Labuah Sampik, jangankan roda empat, kendaraan roda dua saja sulit lewat.
Spanjang tiga kilometer Jalan Usaha Tani di Kampung Koto Lamo rusak berat, padahal di sana terdapat lahan perekonomian warga yang sangat produktif. Sebagai sarana utama pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan warga, jalan itu kini tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.
Hanya sekitar seratus meter badan jalan yang tidak rusak, yakni dari simpang masuk. Setelah seratus meter sehabis itu badan jalan seperti ada saluran panjang. Saluran selebar hampir setengah meter itu terbentuk akibat di injak ban mobil saat kondisi masih baik.
Kerusakan telah terjadi bertahun tahun. Jangankan dilewati keandaraan roda empat, kendaraan roda dua saja sulit dapat melewatinya. "Kawasan itu sama saja terisolasi dari dunia luar, warga enggan mengangkut produksi pertaniannya keluar," kata Iwel (35) salah seorang masyarakat disana.
Sementara itu, akibat buruknya jalan di Koto Lamo itu, puluhan siswa SD yang berasal dari Labuah Sampik Koto lamo itu terpaksa harus jalan kaki sepanjang tiga kilometer dari rumahnya.
Namun yang sangat menyedikan adalah bila musim penghujan. Selain muncul lumpur tebal maka terbentuk genangan genangan air di sepnajng badan jalan. Para siswa dan siswi yang berasal dari sana tidak bisa melewati jalan satu satunya itu. Siswa bahkan sering libur akibat jalan buruk.
Selanjutnya Koto Lamo - Aie Kalam - Tanjung Durian sangat susah pula diakses. Kampung yang berada dalam satu nagari yakni lakitan tengah ini tidak dihubungkan oleh jembatan. Jadi warga di Koto Lamo harus menyeberangi sungai Lakitan untuk dapat ke pusat nagari atau menuju Tanjung Durian. Keadaan ini tentu sangat merisaukan.
Keterbatasan infrastruktur itu telah menghambat gerakan roda ekonomi. Padahal dengan adanya perkembangan pusat pusat ekonomi warga kawasan Mudik Lakitan itu diprediksi akan maju melampaui Lakitan Induk. Mudah mudahan tulisan ini menggugah pembuat kebijakan di kabupaten.