Menjaga Jantung Belitong: Kisah Pelestarian Terpadu dari Darat ke Laut

  • Feb 03, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Flora & Fauna

Bayangkan perpaduan air laut biru jernih dengan hamparan pasir putih selembut sutra, dibingkai oleh formasi bebatuan raksasa seolah hasil pahatan seniman alam. Inilah pesona Pulau Belitung, surga yang tak hanya masyhur sebagai Negeri Laskar Pelangi, tetapi juga rumah bagi ‘batu satam’ yang ajaib. Akan tetapi, di balik keindahannya yang memukau, sebuah ‘alarm’ mulai berbunyi lirih.

Degradasi lingkungan akibat pertambangan, perluasan perkebunan, dan pariwisata yang belum terkelola baik mulai mengancam jantung ekologis pulau ini. Keanekaragaman hayati uniknya, termasuk spesies terancam seperti tarsius Belitung (Cephalopachus bancanus ssp. saltator)lutung perak (Trachypithecus cristatus), dan dugong (Dugong dugon), menghadapi masa depan yang tak pasti. 

Komunitas lokal yang menggantungkan hidup pada alam pun merasakan dampak tersebut. Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah surga ini akan terus terluka, melainkan bagaimana kita menjaga kelestarian alam ini?

Menjawab tantangan konservasi di Belitung, Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI) menggagas sebuah inisiatif ambisius bertajuk “Integrasi Pengelolaan Lestari Keanekaragaman Hayati Terestrial dan Pesisir di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur”. Ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah aksi konkret untuk menyelaraskan kembali harmoni antara manusia dan alam di pulau tersebut. 

Sejak Februari 2025, langkah-langkah awal yang krusial telah membuahkan hasil. Inisiatif yang mendapat sambutan hangat, ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama pemerintah desa di lima lokasi intervensi serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belitung. Fondasi legal dan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil (OMS) menjadi modal yang sangat kuat untuk aksi nyata konservasi.

Langkah kolaboratif di tingkat desa ini sekaligus menjadi implementasi dari Proyek  SOLUSI, sebuah kemitraan antara pemerintah Indonesia (BAPPENAS) dan Jerman (BMUKN) melalui dukungan Inisiatif Iklim Internasional (IKI), sehingga aksi TCI pada tingkat tapak secara langsung berkontribusi pada tujuan besar untuk mengelola lanskap darat dan laut Belitung secara berkelanjutan.

Empat Aksi Nyata untuk Satu Tujuan

Kegiatan intervensi TCI di tingkat desa terdiri atas empat aksi yang saling menguatkan dan kini telah menunjukkan kemajuan penting:

     1. Melestarikan ekosistem secara berkelanjutan

Napas baru sedang dihembuskan ke Taman Hutan Raya (TAHURA) Gunung Lalang. Di sinilah babak pertama pemulihan dimulai, dengan target ambisius untuk merehabilitasi area seluas 28 hektar 

Sebagai fondasinya, demplot bibit seluas 21×6 meter telah dibangun, menjadi rumah untuk 6.910 bibit tanaman buah dan tanaman hutan. Ribuan bibit ini tidak hanya disiapkan untuk menghijaukan kembali lahan yang terdegradasi, tapi juga untuk merajut mimpi masyarakat. Sejalan dengan itu, tim TCI telah memetakan 7 lokasi penting yang berpotensi menjadi destinasi agrowisata. 

Kisah penghijauan ini tak berhenti di darat. Aksi serupa akan menyentuh 10 hektar kawasan mangrove di Desa Juru Seberang dan Desa Baru, memperkuat benteng alami pesisir Belitung.

2. Perlindungan spesies langka (ETP)

Sebagai salah satu pulai kecil di Indonesia, Belitung adalah rumah bagi satwa-satwa kunci yang memesona, dan upaya untuk melindungi mereka kini bergerak maju. Tim ahli telah menyusuri hutan di Desa Lintang untuk memetakan habitat tarsius dan lutung perak, serta menjelajahi padang lamun di Desa Lassar yang menjadi surga bagi dugong.

Hasilnya? Sebaran populasi primata langka ini berhasil diidentifikasi, dan kekayaan ekosistem pesisir telah terpetakan. Namun, yang lebih mengharukan adalah antusiasme masyarakat. Kepala Desa Lintang bahkan berkomitmen untuk mendorong lahirnya Peraturan Desa demi melindungi harta karun bernyawa ini. Ini adalah bukti bahwa konservasi paling kuat lahir dari hati masyarakatnya sendiri.

3. Pengelolaan sampah terintegrasi

Surga pun tak luput dari tantangan modern seperti sampah plastik. Menjawab isu ini, TCI menginisiasi fondasi pengelolaan sampah terintegrasi di Desa Juru Seberang dan Simpang Tiga. Sebuah bank sampah akan segera dibentuk, didukung oleh rencana pengelolaan sampah tingkat desa yang disusun bersama warga.

Dengan tujuan pasti untuk membangun kesadaran dan sistem agar sampah tidak lagi mencemari ekosistem pesisir yang rapuh. Melalui workshop dan survei timbulan sampah, masyarakat disiapkan untuk merancang sistem pengelolaan yang efektif. Sebuah langkah krusial untuk menjaga keindahan laut dan pantai Belitung.

4. Mata pencaharian alternatif

“Konservasi yang berhasil adalah konservasi yang menyejahterakan.” Inilah jiwa dari aksi keempat, yaitu memberdayakan masyarakat melalui mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan.

Pendekatan ini selaras dengan konsep global Nature-based Solutions (NbS) di mana solusi untuk tantangan sosial dan ekonomi justru ditemukan dengan cara melindungi dan memulihkan ekosistem. Sederhananya, alam menyediakan jawaban bagi kesejahteraan manusia.

Lalu, bagaimana TCI menerjemahkan konsep ini di lapangan?

  • Pengembangan Ekowisata: Survei dan FGD di enam desa telah memetakan 41 titik lokasi wisata potensial. Ratusan warga terlibat aktif, bersemangat menyambut masa depan pariwisata desa mereka.
  • Pemberdayaan Perempuan: Sebanyak 120 perempuan akan mendapatkan pelatihan pengolahan produk lokal, membuka peluang ekonomi baru.
  • Perikanan Berkelanjutan: Sebuah percontohan budidaya perikanan berkelanjutan akan dikembangkan di Desa Perpat.

Sebuah Kisah Harapan untuk Indonesia

Melalui pendekatan yang mengintegrasikan perlindungan spesies, pemulihan ekosistem, dan pemberdayaan ekonomi, proyek ini menjadi model pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Aksi-aksi yang telah berjalan menunjukkan bahwa kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh beriringan. Ini adalah sebuah kisah harapan dari Belitung untuk Indonesia.(KEHATI.OR.ID)