Menjaga Kekayaan Rimba Pessel?
- Jun 06, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Flora & Fauna
Oleh : Haridman Kambang
Hampir separuh penduduk Pessel tinggal dekat dengan hutan lindung. Ribuan orang juga bergantung menafkahi hidup di hutan. Karena memang,
hutan kita mengandung banyak kekayaan, baik flora maupun fauna.
Kekayaan itu sungguh sulit menghitungnya. Khusus faunanya, banyak yang masuk kategori hewan langka dan diancam kepunanhan. Misal badak
sumatera, kucing siam, rusa, kijang, trenggiling, landak dan lain lain.
Penduduk rimba yang paling heboh adalah badak dan harimau sumatera. Tiap tahun selalu saja ada kabar bahwa harimau sumatra (Panthera
Tigris Sumatrae) yang mati. Kita dihadapkan kepada upaya serius penyelamatan satwa langka tersebut.
Penyebab mulai langkanya hewan tersebut adalah, pembabatan hutan dan illegal loging. Diduga hanya ada sekitar 136 individu harimau sumatera
bertahan hidup di seluruh wilayah TNKS, kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bila dikerucutkan lagi di TNKS Pessel populasi yang
ada tentu jauh lebih sedikit. Mungkin hanya tinggal puluhan ekor saja.
Pernah penulis berdiskusi dengan mantan Kepala Seksi Balai TNKS Pesisir Selatan Kamaruzamantentang hal ini. Menurutnya pembabatan hutan dan illegal loging tersebut telah menyebabkan terdesaknya habitat alami harimau sumatra. Mereka tidak punya ruang yang cukup untuk bisa bertahan hidup sebagai mana biasanya.
Disebutkan, pembabatan hutan mengakibatkan serangkaian tindakan ancaman lainnya bagi harimau sumatera. Artinya tidak sekedar membabat,
namun adapula kegiatan tambahan. Misalnya setelah membabat mereka melakukan perburuan, para pelaku illegal loging dan perambah hutan
biasanya akan melakukan tindakan perburuan terhadap harimau sumatera dan satwa lain. Pembabatan dan perburuan biasanya serangkai.
“Selain itu, dengan terjadinya pembabatan hutan dengan sendirinya habitat dan lingkungan harimau sumatera kian terdesak, demikian pula
dengan sumber makanan harimau sumatera juga akan habis. Ini adalah konsekwensi lainnya dari tindakan tidak bertanggung jawab tersebut”
ujar Kamaruzaman.
Menurutnya, jika wilayah territorial harimau sumatera telah dibabat atau dirambah, harimau sumatera tersebut mencoba mencari wilayah
kekuasaan lain untuk bisa mencari makanan, namun pada akhirnya ia tidak bisa bertahan hidup di wilayah baru.
Selain hal tersebut menurut Kamaruzaman, pembukaan jalan baru yang melintasi wilayah harimau sumatra juga menjadi ancaman bagi hewan yang
telah diambang kepunahan tersebut. Kondisi tersebut juga mempersempit wilayah harimau.
“Pembabatan hutan, illegal loging dan pembukaan jalan selain telah mempersempit ruang gerak harimau, juga telah mempermudah akses bagi
pemburu untuk membunuh atau menjerat hewan tersebut, sehingga tidak jarang kita menemukan sejumlah harimau mati akibat dijerat,” kata
Kamaruzaman lagi.
Selanjutnya menurut Kamaruzaman, konflik manusia dengan satwa satwa di TNKS secara perlahan akan memperburuk kondisi satwa yang menduduki
puncak piramida rantai makanan di wilayah TNKS. Manusia memiliki kepentingan dan motifasi untuk melakukan aktifitas di hutan. Mulai
dari sekedar mencari kayu bakar hingga meburu hewan lain yang seharusnya menjadi sumber makanan bagi harimau sumatera.
Meski tidak bisa menaksir kecepatan pembabatan hutan di TNKS yang terlaksana secara massif tersebut, Kamaruzaman berharap perlu
menyatukan persepsi bagi penyelamatan TNKS dan seluruh isinya tersebut. Pemerintah kabupaten hingga nagari, kemudian masyarakat
memiliki cara pandang yang sama untuk melestarikan hewan langka tersebut.
Dijelaskannya, dalam rangka mensinerjikan dan mengoptimalkan upaya upaya pelestarian satwa tersebut, Pemerintah Indonesia melalui
Depertemen Kehutanan bersama pihak terkait telah merevisi dan menyusun kembali Dokumen Stategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera
tahun 2004.
“Dan itu telah ditetapkan melalui Permenhut No P.42/ Menhut/II/2007 tentang Stategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera
2007-2017, mudah mudahan harimau sumatera terselamatkan” kata Kamaruzaman penuh harap.