Menuju Lulus Berkualitas dari Sekolah
- Jun 07, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Oleh : Haridman
Sebagai provinsi yang disebut sebut sebagai "industri otak", maka dunia pendidikan daerah ini masih dihadapkan pada banyak hal. Mulai dari masih tingginya angka buta huruf hingga rendahnya mutu lulusan sekolah.
Bicara mutu pendidikan, maka kita berbicara empat hal, satu dan lainnya saling menyokong. Empat hal tersebut adalah yang didik, pengajar, masyarakat termasuk orang tua dan pemerintah dalam hal ini secara khusus mungkin dinas pendidikan.
Siswa, guru, masyarakat dan pemerintah adalah ibarat segi empat yang diharapkan dapat menciptakan pendidikan dengan mutu lebih baik, tapi sebaliknya ke empatnya pula yang akan menentukan jebloknya mutu pendidikan.
Ada yang salah selama ini. Ke empatnya seolah telah sepakat, bahwa salah satu target sekolah adalah "tamat", bukan "tamat berkualitas".
Bisa dipastikan, dimanapun daerahnya di Sumbar, bila punya anak yang sedang mengeyam pendidikan, pertanyaan pertama adalah apakah anak tersebut sudah tamat sekolah atau belum. Hanya sekedar itu. Tak peduli berkualitas atau tidak.
Siswa adalah objek pendidikan, baik yang dikelola secara formal maupun non formal, semisal pelatihan atau yang tergabung dalam BLK dan
sejenisnya. Siswa kita dengan silabus pendidikan yang demikian terencana dari pusat ditambah materi lokal, memang masih dihadapkan pada dilema Ujian Nasional. Ujian Nasional adalah hantu yang selalu ditakuti, kendatipun menjadi hantu UN kadang juga sering disepelekan dan tidak
menyadarkan siswa untuk sedari dini berkemas kemas menguasai materi permateri.
Penyakit lama siswa kita adalah belajar kebut semalam yang dulu dikenal dengan singkatan SKS. Belajar SKS bermacamlah bentuknya, ada
yang membuat contekan, jimat atau catatan tersembunyi lainnya. Atau ada yang fokus pada upaya menguasai materi dalam satu malam. Satu dua memang ada yang mempersiapkan sejak jauh, inilah orang orang yang akan melampaui mimpi mimpi masyarakat, bukan hanya sekedar tamat belaka, tapi lulus dengan kualitas bagus.
Dari berbagai pertanyaan yang diajuakan ke siswa yang akan menghadapi ujian, ternyata motivasi siswa kita sederhanya saja. Yakni mengikuti
ujian untuk lulus. Baik dalam UN atau jika bagi kelas X dan XI adalah naik kelas. Motivasi sederhana yang kemudian mengakar dan mendarah daging bagi siswa kita hingga kini.
Selanjutnya pengajar. Salah satu yang akan membuatnya bangga adalah bila seratus persen siswanya naik kelas, atau seratus persen siswanya
lulus UN. Sama dengan siswa, ternyata lulus dan tamat adalah salah satu motivasinya.
Motivasi yang juga sudah mengurat mengakar di kalangan pengajar. Para guru belum terlalu banyak menyinggung hal lain dari kelulusan seratus
persen, karena beban untuk itu terlalu berat dan memusingkan. Motivasi guru sering mentok hanya pada tataran keinginan untuk lulusnya anak didik seratus persen.
Harapan agar pendidikan terselenggara dengan baik juga tertumpang pada masyarakat. Maka masyarakat diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa agar proses belajar mengajar bisa terlaksana, dukungan itu bisa dalam bentuk materi atau non materi. Kedua duanya sama sama mendukung pendidikan. Baik buruknya lingkungan sekolah juga tergantung masyarakat disekitar sekolah berada.
Masyarakat dalam konteks lebih umum bila ditanya apa harapannya terhadap siswa yang sedang mengikuti pendidikan, maka satu kalimat
saja "lulus dan tamat".
Terakhir pemerintah. APBD menuju angka 20 persen untuk pendidikan, meski pemerintah didaerah hanya numpang nama pada program pemerintah pusat, karena dana yang dianggarkan sendiri oleh pemerintah provinsi dan kabupaten sebenarnya tidak seberapa untuk pendidikan. Maka diberbagai forum akan bersitungkin menyebutkan soal target kelulusan
seratus persen ini. Atau paling tidak target kelulusan lebih baik dari kemaren.
Demikian keempatnya seolah olah telah bulat soal lulus dan tamat. Kelulusan sekian persen yang diharapakan pada segi empat pendidikan
Sumbar menunjukan betapa sederhananya target yang dicapai. Sangat jarang siswa berbicara soal mutu, sangat jarang guru bicara mutu,
sangat jarang masyarakat kita bicara mutu dan sangat jarang pemerintah kita berjanji akan memperbaiki mutu pendidikan.
Rasanya inilah penyakit kita, bersekolah hanya untuk tamat, terlalu sederhana, belum terlalu jauh menuju capaian kualitas. Logikanya jika
lulus, belum tentu nilainya baik, belum tentu siswa bisa memenuhi persyaratan masuk perguruan tinggi atau persyaratan kerja. Namun jika
target ini ditingkatkan yakni dari sekedar lulus dan tamat menjadi lulus berkualitas, maka pasti muridnya lulus, pendidikan berkualitas
pasti bisa melengkapi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan dan bersaing.
Maka wajar kiranya, karena mind set segi penyokong pendidikan kita belum menuju perbaikan kualitas, tidak seberapa lulusan SMA/SMK apalagi di daerah bisa duduk di perguruan tinggi yang membutuhkan
penseleksian ketat.
Selama target ke empat pilar itu sekedar lulus dan tamat saja, maka selama itu pula pendidikan kita akan seperti ini saja, lulus tapi kualitas rendah. Lulusan sekolah kita sulit bersaing keperguaruan
tinggi negeri, lulusan sekolah kita sulit menembus lapangan kerja. Lalu lulusan sekolah kita pada akhirnya menjadi pengangguran, menjadi
beban bagi keluarga, menjadi beban bagi nagari, menjadi beban bagi kabupaten dan provinsi.