Merancang Ketahanan Pangan Nelayan Pessel Saat Pancaroba

  • Aug 03, 2025
  • Kompasnagari.kim.id
  • Artikel
Oleh : HARIDMAN KAMBANG


Nelayan tradisionil maupun nelayan dengan peralatan modern di Pesisir Selatan bisa beraktifitas bergantung cuaca. Cuaca dapat berobah kapan saja, misal badai, ombak besar, arus laut berubah. Cuaca memburuk di Pesisir Selatan (Pessel) bisa berminggu minggu. Nelayanpun urung melaut, hutang para nelayanpun telah menumpuk karena tak ada penghasilan, mereka terncam kekurangan pangan.

Ketika laut tidak lagi bersahabat. Misal pagi hujan, tak lama kemudian langit cerah, berselang beberapa waktu awan hitam dari langit bagian utara muncul lagi, demikian berulang ulang hingga malam datang. Ombak membesar dengan arus yang deras.  Akibatnya jaring dan pukat tidak bisa mereka operasikan. Ribuan nelayan yang menggantungkan hidup yang semata mata dilaut tidak berdaya. Hutang telah "selilit" pinggang. Kalaupun ada yang memaksa pukat turun kelaut, oleh nelayan lain orang ini dinggap "nyawa berlebih".

Baca Juga : Panasahan Menjadi Satelit Teluk Bayur

Menurut anggapan nelayan cuaca nomor satu dahsyat adalah saat angin utara datang. Ada yang memperkirakanlamanya bisa mencapai lima belas satu bulan. Meski waktunya cukup singkat dibandingkan angin selatan, maka angin utara merupakan masa masa paceklik bagi nelayan. Masa masa rawan pangan. Masa masa munculnya kekurangan gizi bagi nelayan.

 Selain yang disebutkan diatas, masih ada karakteristik lain yang menyebabkan angin utara tidak bisa bersahabat dengan nelayan, misalnya gelombang laut tidak bisa diperkiran besarnya. Kadang tiba tiba tinggi, kadang rendah tapi membawa arus kuat,  termasuk kecepatan arus bawah air laut ini tak bisa diduga. Ini yang menyebabkan nelayan takut melaut.

Ancaman lain bagi nelayan adalah, munculnya seketika angin barat daya jika dilihat dengan kompas. Ia tidak punya kalender tetap, tapi serangannya tidak lama. Meski hanya memakan waktu singkat (lebih kurang 3-4jam), dampaknya adalah berpotensi muncul badai besar, kemudian setelah badai hilang suasana tenang. Jika angin ini yang datang masih ada harapan bagi nelayan untuk turun melaut. Angin nomor dua yang ditakuti nelayan adalah angun selatan, terjadi perubahan arus, air laut jadi keruh, meski demikian mereka juga masih punya harapan karena angin selatan memaksa ikan untuk ketepi.

Baca Juga : 270 Ribu Warga Pessel Berada di Zona Merah Tsunami

Nelayan kita juga pintar membaca perjalan bintang. Misalnya Bintang Coran atau dikenal bintang kejora, nelayan memprediksi akan muncul badai, dan biasanya ikan gamboloh dan garigak akan muncul. Ini rejeki bagi nelayan. Lantas ada pula bintang "sibanyak berjalan malam". Bila bintang ini muncul akan turun hujan ber minggu minggu. Terakhir menurut ilmu astronomi kuno yang masih diyakini para nelayan Pessel, jika rasi kala jengking bertemu dengan bulan, dimana posisi bulan persis berada dijantung kala, alamat akan ada badai hujan. Perkiraan mereka sering tidak tidak meleset.

Sekarang persoalannya adalah, ketika mereka menganggur, lalu apa? Rata rata mereka tidak punya keterampilan, seperti rekan mereka yang bermukim di pinggir gunung. Artinya tidak ada pekerjaan yang bisa mereka kerjakan jika angin utara tidak kunjung reda, atau musim berbahaya lainnya menjelang. Namun mereka nelayan kita tetap harus bertahan untuk hidup. Pada situasi seperti inilah kita semua bisa melihat seperti apa sulitnya penghidupan nelayan. Kita tidak bisa sandingkan kemiskinan yang dialami petani dengan nelayan. Bagi petani, sesulit apapun hidup, ubi sebatang masih saja ada terselip di pagar ladang. Nelayan kita, tidak bisa seperti itu.

Baca Juga : Pemerintah Pessel Petakan Jalur Evakuasi Tsunami

Sudah seharusnya, pembuat kebijakan memikirkan sebuah koperasi yang layak dengan kegiatan bisa melayani simpan pinjam bagi para nelayan. Jika panen berlimpah, mereka tidak dipermainkan tengkulak. Disaat panen mereka banyak, sebagiannya bisa disimpan. Kemudian bila paceklik tiba mereka sudah punya tabungan untuk digunakan seperlunya. Hingga kini, kita tidak pernah melihat sebuah kopresi yang representatif bagi nelayan. Namun yang ada hanyalah tengkulak berkedok koperasi, yang elalu membuat lobang dan jebakan bagi para nelayan.

Nelayan kita di Pesisir Selatan sering "tercekek". Maka sudah saatnya pula belajar dimasa masa paceklik dan rawan pangan ini, oleh pembuat kebijakan mulai memfasilitasinya untuk memiliki lumbung pangan, atau memiliki sistem ketahanan pangan untuk penyelamatan perut mereka