Muhayatul, Lahir dari Rahim Getir Lapangan, Di antara Deru Mesin dan Riuh Sidang

  • Mar 15, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Artikel

Oleh : Pasisia Bana
Bau oli dan freon pernah menjadi bagian dari hari-harinya. Di sebuah bengkel sederhana, Muhayatul berdiri dengan tangan kotor oleh kerja, menunduk di balik kap mobil yang terbuka. Ia bukan sekadar memperbaiki pendingin udara kendaraan. Ia sedang menempa dirinya sendiri.

Hari itu mungkin tak banyak yang menyangka, lelaki kelahiran Tarusan, Pesisir Selatan, 25 September 1984 itu kelak duduk di kursi legislatif provinsi. Kini, namanya tercatat sebagai Ketua Fraksi PAN DPRD Sumatera Barat. Namun jalan ke sana tak pernah instan.

Muhayatul tumbuh dari tradisi organisasi. Kepemimpinannya mulai terasah sejak menjadi Ketua OSIS. Di bangku kuliah IAIN Imam Bonjol Padang, aktivismenya menemukan panggung lebih luas melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dari Ketua IMM Cabang Padang hingga memimpin BEM, ia belajar satu hal: perubahan tak lahir dari keluhan, melainkan keterlibatan.

Di tubuh Muhammadiyah, langkahnya kian mantap. Ia pernah memimpin Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat periode 2014–2019. Kini, ia mengomandoi Hizbul Wathan Sumbar—gerakan kepanduan Muhammadiyah—seraya tetap aktif membina organisasi kepemudaan dan olahraga.

Politik datang bukan sebagai tujuan awal, melainkan kelanjutan pengabdian. Dua periode berturut-turut ia dipercaya menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat (2019–2024 dan 2024–2029). Ia pernah menjadi Wakil Ketua Komisi II, lalu memimpin Fraksi PAN. Di parlemen, ia dikenal gemar turun ke lapangan—menjemput aspirasi warga Pesisir Selatan dan Mentawai, daerah pemilihannya. Fokusnya jelas: ekonomi kerakyatan, pendidikan, dan pelestarian budaya Minangkabau, termasuk memberi ruang bagi seni randai agar tetap hidup.

Pendidikan menjadi pijakan lain dalam hidupnya. Lulusan SMKN 5 Padang ini meraih gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Sains dari Universitas Bung Hatta. Semangat belajarnya belum padam; ia kini menempuh studi doktoral Ilmu Lingkungan di Universitas Negeri Padang.

Namun yang menarik, Muhayatul tak pernah meninggalkan akar kewirausahaannya. Sebelum duduk di parlemen, ia membangun usaha bengkel dan reparasi AC mobil. Ia memahami denyut ekonomi kecil dari dalam—dari keringat pekerja, dari hitungan harian yang kadang tak pasti. Pengalaman itu membentuk sudut pandangnya tentang pembangunan: kebijakan harus menyentuh pelaku usaha kecil, bukan sekadar angka di atas kertas.

Di ruang sidang, Sumando Urang, Tebing Tinggi, Kambang itu berbicara tentang anggaran dan regulasi. Di tengah masyarakat, ia menyerap keresahan dan harapan. Dan di benaknya, mungkin masih terngiang bunyi mesin yang dulu menemaninya—sebuah pengingat bahwa kerja besar selalu bermula dari kerja kecil yang tekun.

Menekuni bengkel reparasi AC, kini cahaya mentari memang bersinar terang mengikutinya. Tetapi bagi Muhayatul, terang itu bukan tujuan akhir. Ia hanyalah konsekuensi dari konsistensi.