Pria (Marapulai) Basuntiang, Tradisi Unik Inderapura

  • Mar 18, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Agama, Adat & Budaya

Ditulis Oleh : Pasisia Bana
Jika suatu saat anda bersua dengan lelaki bersunting, memang terlihat aneh. Karena biasanya yang basuntiang hanya padusi. Namun, di Inderapura (Kec. Pancung Soal dan Kec. Airpura) tradisi ini memiliki akar masa silam yang panjang.

Di tengah kekayaan adat Minangkabau, masyarakat Inderapura, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memiliki tradisi unik yang jarang ditemui di daerah lain, yakni Marapulai Basuntiang. Dalam prosesi pernikahan adat ini, pengantin pria atau marapulai mengenakan suntiang—hiasan kepala yang umumnya identik dengan pengantin perempuan.

Tradisi Marapulai Basuntiang diyakini telah berakar sejak abad ke-16, bermula dari kisah sejarah Kerajaan Inderapura. Saat itu, seorang Sultan dari Banten yang akan menikahi Putri Embun Istana diminta mengenakan suntiang sebagai bentuk penghormatan terhadap adat setempat. Sejak peristiwa tersebut, pemakaian suntiang oleh marapulai diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pernikahan adat Inderapura.

Suntiang yang dikenakan marapulai memiliki bentuk khas yang berbeda dengan suntiang pengantin perempuan. Ukurannya cenderung lebih besar secara visual, namun lebih rendah dan sederhana, dengan corak yang mencerminkan ketegasan sekaligus kebesaran seorang laki-laki. Perbedaan ini menegaskan identitas marapulai tanpa menghilangkan makna simbolik yang dikandungnya.

Dalam prosesi adat, suntiang dipakai marapulai saat arak-arakan, khususnya ketika turun dari rumah bako. Momen ini menandai pengakuan sosial atas status marapulai sebagai “raja sehari” sekaligus pengesahan dirinya sebagai Urang Sumando—menantu yang diterima secara adat di lingkungan keluarga istri.

Lebih dari sekadar atribut busana, Marapulai Basuntiang mengandung filosofi mendalam tentang kesetaraan, penghormatan, dan kerendahan hati. Tradisi ini mencerminkan pandangan masyarakat Inderapura bahwa pernikahan bukanlah dominasi salah satu pihak, melainkan pertemuan dua keluarga besar yang setara dan saling menghormati.

Hingga kini, Marapulai Basuntiang tetap dilestarikan oleh masyarakat Inderapura sebagai identitas budaya yang membedakan mereka dari daerah Minangkabau lainnya. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi penanda kuat bahwa adat dan nilai luhur masih hidup dan dijaga sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.