Profil Buya Kompol Syafrizen, S.H, Wakapolres Pessel
- Mar 16, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Penulis : Pasisia Bana
Putra Lengayang kembali menorehkan jejak pengabdian di tanah kelahirannya. Nama Syafrizen Datuak Rang Batuah kini mengemban amanah sebagai Wakapolres di Kabupaten Pesisir Selatan, setelah resmi dilantik dalam upacara serah terima jabatan yang dipimpin Kapolres Derry Indra, Selasa, 3 Maret 2026.
Upacara yang berlangsung di halaman Mapolres itu menjadi penanda babak baru perjalanan pengabdian seorang anak nagari yang tumbuh dari kampung sederhana di Lengayang. Karier kepolisiannya dimulai dari bawah, sebagai Bintara Polri, hingga kemudian menapaki jenjang pendidikan hukum dan meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Ekasakti di Padang.
Di tubuh kepolisian, Syafrizen bukan nama baru. Ia pernah memimpin Polsek Lengayang dan Polsek Basa Ampek Balai Tapan pada rentang 2013–2017. Pengalamannya juga ditempa sebagai Kasat Reskrim di Kabupaten Agam serta Kasat Binmas di Kabupaten Pasaman. Sebelum kembali mengabdi di Pesisir Selatan, ia menjabat Kasubdit Bhabinkamtibmas pada Ditbinmas Kepolisian Daerah Sumatera Barat sejak awal 2025.
Namun perjalanan Syafrizen tidak hanya ditandai oleh jabatan dan pangkat. Di tengah kesibukan sebagai perwira polisi, ia juga dikenal luas sebagai pendakwah. Dari satu mimbar masjid ke mimbar musala, ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan. Masyarakat mengenalnya dengan panggilan Ustaz Zen atau Buya Zen—sebuah sebutan yang lahir dari kedekatan emosional antara dirinya dan umat.
Perwira berusia 54 tahun itu memadukan dua dunia yang sering dianggap berbeda: ketegasan seorang aparat penegak hukum dan kelembutan seorang dai. Baginya, keduanya justru saling melengkapi—menjaga keamanan masyarakat sekaligus menuntun hati mereka.
Di kampung halaman, ia juga aktif dalam berbagai organisasi kedaerahan seperti PKPWL/IKWAL dan Forum Da’i Lengayang. Kehadirannya sering menjadi pengikat silaturahmi warga rantau dan kampung.
Kini, dengan amanah sebagai Wakapolres Pesisir Selatan, perjalanan Syafrizen seperti kembali ke titik awal: mengabdi untuk daerahnya sendiri. Dari bangku SMP Negeri Lengayang, SMA Tamsis, hingga panggung dakwah dan ruang-ruang kepolisian, langkahnya menjadi cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan pengabdian.
Kisahnya mengingatkan bahwa jalan menuju pengabdian tidak selalu lurus. Ia bisa dimulai dari langkah kecil di kampung halaman, ditempa oleh pengalaman, lalu kembali pulang membawa manfaat bagi banyak orang.