Profil Darmansyah, Ketua DPRD Pessel
- Mar 15, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Ditulis Oleh : Pasisia Bana
Tak banyak yang memprediksi jalan politik Darmansyah akan menanjak setinggi ini. Dari ruang kerja sederhana Wali Nagari di Ampang Tulak—sebuah nagari kecil dengan sekitar 1.500 jiwa—ia kini memimpin lembaga legislatif yang menaungi lebih dari setengah juta penduduk Kabupaten Pesisir Selatan. Kursi Ketua DPRD bukan sekadar jabatan; ia adalah simpul harapan, tempat suara rakyat dirumuskan menjadi arah kebijakan.
Di Nagari Ampang Tulak, Darmansyah dikenal sebagai pamong yang tekun. Urusannya tak jauh dari administrasi tanah ulayat, jalan lingkungan, hingga menengahi sengketa kecil antarwarga. Wilayahnya terbatas, anggarannya pun tak lapang. Namun dari ruang yang sempit itulah ia belajar satu hal: politik bukan tentang panggung, melainkan tentang kesediaan mendengar.
Langkahnya menuju parlemen tak pernah dianggap jalur cepat. Ia maju sebagai calon legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa dengan nomor urut empat—posisi yang lazimnya bukan prioritas. Modalnya pun tak mentereng. Latar belakang pendidikan SMA kerap dipandang sebelah mata di tengah kompetitor yang berderet gelar sarjana. PKB sendiri bukan partai yang selama ini dominan di Pesisir Selatan.
Namun politik kerap menyimpan kejutan. Di lima daerah pemilihan, PKB justru melampaui ekspektasi. Enam kursi berhasil diamankan—angka yang cukup mengunci posisi pimpinan DPRD. Dalam proses internal partai, nama Darmansyah mengemuka. Ia bukan figur paling vokal, bukan pula yang paling lama berkecimpung di panggung partai. Tapi ketenangannya, reputasi bersihnya di nagari, serta kemampuannya merawat komunikasi lintas kelompok menjadi pertimbangan.
Di gedung DPRD Pesisir Selatan, Darmansyah membawa gaya kepemimpinan yang tak meledak-ledak. Ia lebih banyak bekerja dalam senyap, merawat konsensus, dan memastikan palu sidang diketuk dengan kepala dingin. Bagi sebagian orang, ia adalah anomali: mantan wali nagari dari wilayah kecil, nomor urut empat, tanpa gelar akademik tinggi, kini memegang “mahkota” kursi ketua.
Kisahnya mengingatkan bahwa demokrasi selalu membuka celah bagi kemungkinan. Bahwa legitimasi tak hanya lahir dari ijazah atau nomor urut, melainkan dari kepercayaan publik yang dirawat pelan-pelan. Dari Ampang Tulak ke Painan, Darmansyah menapaki apa yang bisa disebut sebagai “perjalanan sunyi”—sebuah lintasan yang tak riuh oleh ambisi, tapi konsisten oleh kerja.
Di tengah politik yang kerap gaduh, kehadirannya menjadi penanda lain: bahwa kepemimpinan bisa tumbuh dari akar rumput, dari nagari kecil yang nyaris tak diperhitungkan. Dan bahwa siapa pun, dengan kerja dan kesabaran, bisa mengubah batas wilayah kecil menjadi cakrawala pengabdian yang lebih luas.