Profil : Defi Adrian, Putra Lengayang di Pusat Baja Indonesia
- Mar 15, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Penulis : Pasisisa Bana
Di antara deru mesin dan pijar baja cair, nama Defi Adrian (41 th) kini menempati posisi strategis di industri logam nasional. Putra Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat itu dipercaya memimpin PT Bhirawa Steel, produsen baja tulangan beton yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok infrastruktur nasional.
Perjalanan Defi tidak berlangsung instan. Lulusan teknik sipil ini sebelumnya dikenal publik Sumatera Barat sebagai Project Manager pembangunan Tol Padang–Sicincin, ruas awal dari jaringan PT Hutama Karya (Persero) di koridor Trans Sumatera. Di tengah persoalan klasik pembebasan lahan dan dinamika sosial, ia membangun komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.
Di lapangan, ia menghadapi tantangan yang tak sederhana: isu tanah ulayat, spekulasi harga lahan, hingga tarik-menarik kepentingan lokal. Namun pendekatan dialogis dan teknokratis yang ia tempuh membuat progres konstruksi bergerak, meski perlahan. Bagi Defi, proyek infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal, melainkan juga soal membangun kepercayaan publik.
Kariernya kemudian berlanjut di level korporasi. Ia sempat menjabat Kepala Departemen Perencanaan dan Desain di PT Hutama Karya Infrastruktur. Dalam posisi itu, ia terlibat dalam perencanaan sejumlah proyek strategis, termasuk flyover Sitinjau Lauik di Padang, yang sarat dimensi teknis dan sosial.
Kepercayaan manajemen membawanya ke pucuk pimpinan PT Bhirawa Steel, perusahaan yang telah berdiri sejak 1973 dan memproduksi baja tulangan untuk berbagai proyek besar, mulai dari jalan tol hingga bendungan. Produk perusahaan ini digunakan, antara lain, dalam pembangunan Bendungan Semantok di Jawa Timur serta sejumlah ruas tol di Sumatera.
Di tengah kebutuhan baja nasional yang masih ditopang impor, posisi Defi menjadi strategis. Data industri menunjukkan konsumsi baja Indonesia masih melampaui kapasitas produksi domestik pada sejumlah segmen. Tantangannya bukan hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga efisiensi, mutu, dan daya saing harga di pasar yang kian terbuka.
Defi melihat industri baja sebagai fondasi industrialisasi. Ia mendorong penguatan teknologi produksi, peningkatan kualitas sesuai standar nasional, serta kolaborasi dengan pelaku konstruksi dalam negeri. Baginya, ketahanan infrastruktur tidak bisa dilepaskan dari ketahanan material.
Sebagai putra daerah yang tumbuh di pesisir Sumatera Barat, Defi mengaku nilai-nilai kerja keras dan kolektivitas kampung halaman membentuk kepemimpinannya. Ia terbiasa membangun komunikasi lintas pihak, baik dengan pekerja di lini produksi maupun mitra bisnis dan regulator.
Di internal perusahaan, ia dikenal menekankan profesionalisme dan keterbukaan. Motivasi karyawan, menurutnya, menjadi kunci dalam industri yang padat modal dan teknologi. “Industri baja menuntut presisi dan disiplin tinggi. Tanpa tim yang solid, sulit mencapai standar mutu,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Kini, di pusat industri baja Indonesia, Defi Adrian memanggul harapan ganda: memperkuat kinerja korporasi sekaligus berkontribusi pada kemandirian industri nasional. Dari Lengayang ke lantai pabrik baja, ia menapaki lintasan yang memperlihatkan bagaimana anak daerah dapat mengambil peran di panggung industri strategis Tanah Air.