Runtuhnya VOC: Korupsi Merajalela Bangkrutkan Perusahaan (1799)
- Mar 12, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Oleh : FB Pasisia Bana
Pada 31 Desember 1799, riwayat Vereenigde Oostindische Compagnie resmi berakhir. Kongsi dagang yang pernah menjadi raksasa maritim dunia itu tumbang oleh beban utang, perang berkepanjangan, dan tata kelola yang keropos. Di balik kejayaan rempah dan benteng-benteng di Nusantara, VOC menyisakan ironi: perusahaan bangkrut, tetapi sejumlah pejabatnya justru hidup bergelimang harta.
Sejak abad ke-17, VOC membangun imperium dagang dari Amsterdam hingga Batavia. Namun, praktik monopoli keras dan biaya militer yang tinggi menggerus kas. Pada akhir abad ke-18, utang membengkak—mencapai ratusan juta gulden—sementara pemasukan tersendat oleh persaingan dan inefisiensi.
Korupsi menjadi penyakit kronis. Sejumlah gubernur jenderal dan pejabat tinggi memperkaya diri lewat manipulasi pembukuan, komisi gelap, dan perdagangan pribadi. Nama-nama seperti Cornelis Janszoon Speelman dan Joan van Hoorn kerap dikaitkan dengan praktik nepotisme dan penyalahgunaan wewenang. Sosok Jan Pieterszoon Coen bahkan dikenang sebagai arsitek ekspansi VOC yang keras—simbol kejayaan sekaligus kontroversi.
Ketika VOC dibubarkan, seluruh aset dan utangnya diambil alih pemerintah Belanda, menandai lahirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Kisah 1799 menjadi pelajaran pahit: sebuah korporasi bisa menguasai samudra, tetapi runtuh oleh kerakusan dari dalam.