Sejarah Etimologi dan Taksonomi Penyu Sisik

  • Mar 23, 2025
  • Kompasnagari.kim.id
  • Flora & Fauna

Sejarah Etimologi dan Taksonomi

Penyu sisik (kanan atas) dalam sebuah gambar dari tahun 1904 karya Ernst Haeckel.

Linnaeus awalnya menamakan penyu sisik sebagai Testudo imbricata pada tahun 1766, dalam Systema Naturae edisi ke-12.[47] Pada tahun 1843, seorang ahli zoologi Austria yang bernama Leopold Fitzinger memasukkan hewan tersebut dalam genus Eretmochelys.

Pada tahun 1857, spesies tersebut selama beberapa saat disalahartikan sebagai Eretmochelys imbricata squamata.

Dua subspesies dimasukkan dalam takson E. imbricataE. i. bissa (Rüppell, 1835) merujuk pada populasi yang berada di Samudra Pasifik.

Populasi yang berada Atlantik adalah subspesies yang terpisah, yakni E. i. imbricata (Linnaeus, 1766)Subspesies tersebut tergolong dalam takson Atlantik, karena jenis spesimen Linnaeus berasal dari Atlantik.

Fitzinger menggunakan nama genus Eretmochelys, gabungan dari kata eretmo dan chelys dalam bahasa Yunani, yang masing-masingnya berarti "dayung" dan "penyu". Nama tersebut merujuk pada sirip penyu bagian depan yang menyerupai dayung. Nama spesies imbricata berasal dari bahasa Latin, yang artinya lapisan.

Penamaan ini sangat tepat untuk mendeskripsikan skat bagian belakang pada penyu tersebut yang bertumpang tindih. Nama subspesies penyu sisik Pasifik, bissa, adalah bahasa Latin untuk "ganda".

Subspesies tersebut awalnya dinamakan Caretta bissa; istilah tersebut dipakai karena hewan tersebut adalah spesies kedua dalam genus tersebut. Caretta adalah genus penyu sisik yang berukuran lebih besar, yakni penyu tempayan.

Salah satu jenis penyu yang mendarat di Amping Parak adalah penyu sisik. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae.

Penyu ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya. Spesies ini memiliki persebaran di seluruh dunia, dengan dua subspesies terdapat di Atlantik dan PasifikE. imbricata imbricata adalah subspesies di Atlantik, sedangkan E. imbricata bissa adalah subspesies di wilayah Indo-Pasifik.

Penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Penyu ini umumnya memiliki bentuk tubuh yang datar, dengan sebuah karapaks sebagai pelindung, dan sirip menyerupai lengan yang beradaptasi untuk berenang di samudra terbuka.

Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air. Walaupun penyu ini menghabiskan separuh hidupnya di samudra terbuka, sesekali mereka juga mendatangi laguna yang dangkal dan terumbu karang.

Praktik memancing yang dilakukan oleh manusia menyebabkan populasi E. imbricata terancam punahWorld Conservation Union mengklasifikasikan penyu sisik sebagai spesies kritis.Cangkang penyu sisik adalah sumber utama dari material cangkang kura-kura yang digunakan untuk bahan dekorasi atau hiasan. Convention on International Trade in Endangered Species melarang penangkapan dan penjualan penyu sisik maupun produk-produk yang berasal darinya.