Siaga Tsunami, Pessel Bangun Shelter dan Bentuk KSB
- Jun 07, 2025
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Laporan : Haridman Kambang
Gempa di Kepulauan Mentawai belasan tahun lalu perlu jadi pelajaran rakyat Sumatera Barat di pesisir pantai. Pesisir Selatan sebagai kawasan rawan disapu tsunami perlu kembali bersiap diri menghadapi ancaman tersebut.Masyarakat, terutama pemerintah harus kembali memastikan kesiapan sarana dan prasarana menghadapi ancaman tersebut.
Wakilbupati Pessel Risnaldi menyebutkan, shelter menjadi sarana penyelamatan penting bagi warga Pesisir Selatan yang bermukim di zona merah bila ancaman gempa berpotensi tsunami tiba. Untuk penyediaan sarana tersebut di Pesisir Selatan hingga tahun 2025 ini telah membangun shelter di sejumlah sekolah dan menyulap tempat ketinggian yang mudah dijangkau sebagai tempat menyelamatkan diri. Selain itu, pembangunan jalur evakuasi juga terus ditingkatkan.
Kemudian menurutnya, pemerintah juga selalu mengingatkan warga untuk tidak membangun rumah di zona merah. Kini sekitar 300 ribu penduduk Pessel terancam tersapu tsunami dan semuanya bermukim di zona merah dan kuning.
Dia menyebutkan, kecenderungan warga mendirikan rumah atau bangunan untuk membangun usaha di zona merah semakin besar, terutama di jalur Lintas Barat Sumatera. "Kami sudah sampaikan larangan membangun rumah atau bangunan di zona merah, namun bangunan justeru tumbuh bak jamur di musim hujan. Misalnya di Pasir Putih Kambang, warga berlomba-lomba mendirikan bangunan," katanya.
Disebutkannya, sekitar 300 ribu warga Pessel rawan terancam tsunami. Jumlah itu lebih separoh masyarakat Pessel yang bermukim di sepanjang garis pantai. Terkait ancaman tersebut, pemerintah kabupaten terus melengkapi fasilitas evakuasi di seluruh kecamatan yang rawan tsunami, agar daerah itu siap hadapi bencana.
"Selain melengkapi fasilitas penyelamatan, pemerintah kabupaten juga dituntut memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang tata cara menghadapi bencana. Selain itu, dengan memberikan pemahaman ke masyarakat, dengan sendirinya warga akan terbantu secara psikologis menghadapi bencana alam," ungkapnya.
Risnaldi, mengatakan, saat ini Pessel telah melakukan upaya - upaya persiapan. Namun menurutnya persiapan tersebut masih belum optimal."Idealnya setiap kampung punya satu shelter. Namun untuk itu perlu biaya amat besar. Namun secara perlahan kita terus menambah bangunan," katanya.
Kepala BPBD Pessel Yuskardi menambahkan, hingga 2025 sedikitnya ada 41 ruas jalur evakuasi tsunami yang sudah dibuat dalam mengantisipasi bencana."41 jalur evakuasi ini tersebar dalam beberapa kecamatan yang dekat atau berada disepanjang garis pantai," katanya.
Pemerintah secara bertahap tetap berupaya melanjutkan pembangunan jalur evakuasi dengan bekerjasama dengan swadaya masyarakat terutama pada daerah yang dinilai rawan. "Pada beberapa daerah gotongroyong masyarakat ini sangat membantu sehingga memudahkan pemerintah dan tinggal memperlancar akses yang akan dilewati ," tambahnya.
Ia juga menyebutkan, Pessel memiliki tiga nagari siaga bencana tsunami diantaranya nagari Sago, Salido dan Surantiah karena tiga nagari ini memiliki daerah ketinggian yang bisa dijadikan sebagai tempat evakuasi. Di nagari ini dilengkapi pula dengan Kelompok Siaga Bencana (KSB)
"Dengan dijadikanya tiga nagari ini sebagai nagari siaga bencana, sehingga pemerintah daerah bisa melakukan sosialisai secara langsung kepada masyarakat melalui simulasi-simulasi yang dilakukan," katanya.
Menurutnya, dengan pengembangan program nagari siaga sehingga memudahkan dalam melaksanakan sosialisasi, tapi juga di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai sebagai mana direncanakan.Sosialisasi siaga bencana juga berlangsung di sekolah yang ada di daerah tersebut.