Sultan Daulat Maralamsyah, Putra Mandeh Rubiah
- Mar 16, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Ditulis Oleh : Pasisia Bana
Di kalangan birokrat Pesisir Selatan, namanya lebih akrab dipanggil Alam. Namun, ketika Maralamsyah Sultan Daulat, S.STP, M.A resmi dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Pesisir Selatan, sebagian koleganya berseloroh: ia kini menjadi “raja” di dinas yang mengurusi nagari itu.
Julukan itu bukan tanpa makna simbolik. Maralamsyah adalah putra Lunang, tanah yang menyimpan jejak panjang sejarah Mande Rubiah, mandeh/ibu Alam—figur perempuan pewaris takhta Bundo Kanduang yang dihormati sebagai pengayom adat. Di nagari itu berdiri Rumah Gadang Mande Rubiah, bangunan berusia lebih dari 400 tahun yang tak bergonjong, jejak pengaruh budaya Aceh. Di dalamnya tersimpan ratusan pusaka Kerajaan Indrapura—naskah kuno, keris, pedang, hingga pakaian adat—yang menjadikan situs tersebut cagar budaya sekaligus ruang ziarah sejarah.
Dari tanah yang sarat simbol adat itulah Maralamsyah tumbuh.
Alumni IPDN 2005 dan UGM 2010 itu itu meniti karier birokrasi secara bertahap. Ia pernah menjadi camat, memimpin wilayah administratif yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ia kemudian dipercaya sebagai Sekretaris DPMDPPKB dan Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Pessel. Setiap pos memberinya perspektif berbeda: tentang tata kelola pemerintahan, pemberdayaan masyarakat, hingga potensi ekonomi berbasis budaya dan pariwisata.
Kini, sebagai Kepala DPMD, tantangannya lebih kompleks. Dinas ini menjadi simpul strategis dalam penguatan nagari—entitas sosial yang bukan sekadar wilayah administratif, tetapi juga ruang hidup adat dan kearifan lokal Minangkabau. Di Pesisir Selatan, nagari adalah denyut pembangunan sekaligus benteng tradisi.
Warisan Mande Rubiah memberi konteks yang tak sekadar romantik. Sosok Mande Rubiah—yang kini diwarisi generasi ketujuh bernama Rakinah yang tak lain adalah ibukandung Alam —selama ini dikenal sebagai rujukan adat, tempat masyarakat “mengadu” dan meminta pertimbangan. Perannya kerap bersinggungan dengan kebijakan pemerintah setempat. Dalam lanskap itu, kepemimpinan di DPMD bukan hanya soal administrasi dana desa atau program pemberdayaan, melainkan juga kemampuan membaca struktur sosial dan adat yang hidup.
Maralamsyah memahami bahwa modernisasi desa tak boleh memutus akar sejarahnya. Pemberdayaan ekonomi, penguatan kelembagaan nagari, hingga optimalisasi potensi lokal harus berjalan seiring dengan pelestarian identitas. Batik Mande Rubiah—yang motifnya terinspirasi manuskrip kuno di rumah gadang tersebut dan telah dikenal hingga tingkat nasional—menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat dikemas menjadi kekuatan ekonomi.
Di tengah tuntutan transparansi, percepatan pembangunan, dan pengawasan dana desa yang kian ketat, Maralamsyah memikul amanah yang tidak ringan. Ia tak hanya memimpin struktur birokrasi, tetapi juga berada di persimpangan antara negara dan adat.
Sebagaimana gelar Mande Rubiah yang melekat pada figur perempuan penjaga marwah adat di Lunang, jabatan “raja” di DPMD adalah metafora tentang tanggung jawab. Bukan kuasa yang utama, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan: antara tradisi dan perubahan, antara aturan dan kearifan.
Bagi Maralamsyah, mungkin inilah babak terpenting dalam perjalanan kariernya—kembali ke akar, untuk membangun dari nagari.