Sungai di Pessel yang Merisaukan

  • Jun 07, 2025
  • Kompasnagari.kim.id
  • Flora & Fauna

Oleh Haridman Kambang
Kabupaten Pesisir Selatan memiliki 18 sungai, 11 diantaranya sungai besar, selebihnya sungai kecil. Seluruh sungai tersebut kini
kondisinya sungguh mengkhawatirkan bahkan merisaukan bagi banyak orang. Bila musim hujan tiba kualitas airnya sudah sangat buruk, bila
musim kemarau sungai nyaris kering.

Daerah Aliran Sungai (DAS) pun tidak ramah lagi. Puluhan ribu orang di DAS, kini selalu diintai ancaman bahaya dan bencana. Teranyar adalah
bencana banjir bandang di Langgai, Tarusan, Pelangangai dan lain - lain.  Penyebanya adalah buruknya ekosistem dihulu sungai tersebut akibat dibalak.

Rupanya, buruknya kualitas sungai di Pesisir Selatan tidak lepas dari pembalakan dihulu hulu sungai. Seluruh hulu sungai kini telah
dirambah. Tidak ada lagi kawasan yang bisa menahan air dengan baik di hulu.

Berdasarkan data TNKS  ternyata memang banyak titik titik pembalakan yang aktif di hulu. Kenapa dihulu ? Rupanya dengan melakukan aktifitas
penebangan di hulu, maka biaya transportasi kehilir juga  mudah, namun pembalak tidak memikirkan dampak buruk yang bisa timbul di kemudian
hari.

Setidaknya ada 16 titik pembalakan dan perambahan di Pesisir Selatan. Pihak TNKS Wilayah Pesisir Selatan, perambahan itu semuanya hingga
kini masih masuk kategori aktif, tapi tidak dipemukiman, namun nyaris separoh lokasi ada pondok. Lokasi perambahan itu berada di sepuluh
nagari dan di delapan kecamatan.

Lokasi yang aktif dirambah tersebut adalah Sungai Gambir, Muaro Sako di Muaro Sako Kecamatan Basa IV Balai Tapan, perambah berdomisili di
Muaro Sako, Sungai Gambir dan Tapan.

Selanjutnya, titik perambahan di  Air Tuik, Nagari Koto Mudiak, Kecamatan Batang Kapas. Perambah umumnya berasal dari Tuik dan Batang
Kapas. Selanjutnya pembalakan juga terjadi di Koto Pulai, Nagari Kambang  Timur dan Pasir Lawas, Nagari Kambang Utara, keduanya berada
di kecamatan Lengayang.

Sementara perambah berdomisili disekitar Koto Kandis, Koto Pulai dan Pasir Lawas. Di Kecamatan Sutera, pembalakan terpusat di nagari Amping Parak
Timur dan Surantiah. Titik pembalakan terjadi di Koto Tinggi, Batu Bala dan Langgai, dimana perambah rata rata berdomisili di Koto, Tinggi, Batu
Balah, Teratak Paneh, Tanjung Gadang dan Kambang.

Lokasi perambahan terbanyak itu terjadi di Linggo Sari Baganti. Titik perambahan terjadi di Punggasan, Air Basung, Air Talang dan Air Bening. Perambah berasal dari Koto Tingga, Rantau Simalenang dan Rantau Nipis.

Sementara di Pancuang Soal perambahan terjadi di Eks DMT Tunggul Betung, dan domisili pembalak di Inderapura, Punggasan dan Lakitan. Di
IV Jurai, perambahan terpusat di Sari Bulan Nagari Salido dan di Hulu Batang Painan. Pembalak rata rata berdomisili di Limau Gadang, Sungai
Gayo dan salido Ketek. Sementara di bayang Utara, pembalakan terjadi di Bukit Cakua, Limau Gadang, pembalak umumnya berasal dari Limau
Gadang.

Seluruh titik tadi, berdasarkan pantauan TNKS status perambahannya aktif. Ditujuh titik ditemukan adanya pondok, artinya pembalak memang
sengaja berhari hari untuk melakukan permbahan dikawasan tersebut.

Titik yang ada pondok tersebut adalah di Muaro Sako, Koto Pulai, Pasir Lawas, Koto Tinggi, Batu Bala, Tanjung Gadang dan Tunggul Betung.
Berdasarkan catatan TNKS kecepatan pembabatan atau perambahan dikawasan TNKS mencapai 1.500 hektar pertahun. Luas wilayah TNKS
adalah 260.968 hektar, jika tidak tertangani dengan segera, maka erambahan di enam belas titik akan membahayakan TNKS kedepannya.

Upaya yang telah dilakukan atau tindakan yang telah dilakukan TNKS adalah, penyuluhan atau sosialisasi KSDA, TSL dan Perundang-Undangan
bidang kehutanan, pemetaan, koordinasi dan sosialisasi ke para pihak terkait (Pemda, Polres, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Patroli
atau operasi fungsional pengamanan kawasan hutan, operasi intelijen dan operasi gabungan.

Khusus penanganan perambahan (penangkapan pelaku perambahan tahun 2010 dan sudah vonis PN 1 thn penjara & denda Rp. 1 juta). Adanya pemahaman dan pengertian tentang kawasan TNKS, khususnya di Kab. Pessel persamaan persepsi tentang pengelolaan dan keberadaan TNKS,
perimbangan dalam proses pemberitaan dan informasi lapangan, meningkatkan kerjasama (jejaring kerja) akan dapat menyelamatkan TNKS.

Demikian hebat pengrusakan hutan Pessel, maka satu persatu sungai Pessel terus mengamuk. Setelah Amping Parak dihondoh banjir bandang di bualn
puasa kemarin, Kepala TNKS berkeyakinan Pesse kini menunggu mengamuknya sungai lain.