ARBAITER SAMARITER BUND
| Nama / Title | : | ARBAITER SAMARITER BUND |
|---|---|---|
| Singkatan | : | ASB |
| Dasar Hukum / SK Pembentukan | : | |
| Alamat Kantor | : | Indonesia : Jl. Kaliurang Km.10, Nglaban, RT 06/ RW 16 Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581, Indonesia |
Arbeiter-Samariter-Bund (ASB), atau Federasi Pekerja Samaria, adalah organisasi bantuan dan kesejahteraan sosial berasal dari Jerman yang terlibat dalam banyak penyediaan layanan sosial, termasuk perlindungan sipil, layanan penyelamatan, dan layanan kesejahteraan sosial. ASB bekerja melalui lebih dari 200 kantor cabang di Jerman dan layanan di lebih dari 20 negara di luar negeri.
Pada tahun 2006, ASB mulai bekerja di Indonesia setelah gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, melalui kemitraan dengan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pada tahun 2014, ASB memulai program pertamanya di Filipina melalui kemitraan dengan organisasi lokal setelah bencana Topan Haiyan pada akhir 2013.
Kami menjalin kerja sama dengan pemerintah, organisasi masyarakat (ormas), akademisi, dan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Kami secara aktif terlibat dalam forum-forum kebijakan regional dan internasional. Kami memiliki komitmen kuat untuk menerapkan solusi-solusi praktis dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif, misalnya melalui jejaring Disability-inclusive Disaster Risk Reduction Network (DiDRRN).
Visi
Visi
Inklusi
Inklusi adalah proses dimana setiap orang (terlepas dari jenis kelamin, usia, disabilitas, serta afiliasi dan preferensi pribadi), dapat mengakses dan berpartisipasi penuh dalam segala aspek masyarakat seperti anggota masyarakat lainnya. Inklusi dapat diartikan sebagai kombinasi dari partisipasi dan akses. Akses dapat meliputi akses fisik, akses informasi, akses peluang layanan dan area lainnya. Memastikan terciptanya inklusi memerlukan pemahaman dan identifikasi terhadap siapa dan mengapa sebagian orang mungkin dikecualikan, secara aktif mendobrak hambatan terhadap akses dan partisipasi, serta menyediakan akomodasi yang memungkinkan untuk semua pihak.
ASB menganggap inklusi sebagai hal yang serius. Kami memiliki tujuan untuk memastikan semua orang, terutama pihak yang paling beresiko, dapat berpartisipasi secara aktif dan memiliki kontribusi yang berarti bagi pekerjaan kami dan mitra kami. Kami mendukung dan mendorong pendekatan seluruh komunitas. Bagi ASB, solusi yang inklusif merupakan inti dari manajemen risiko yang efektif serta dapat membentuk dasar ketangguhan dan pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.
Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah upaya memperluas kemampuan dan peluang bagi setiap orang di setiap sektor untuk berpartisipasi, memengaruhi, berkontribusi, dan memimpin dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat tertentu. Pemberdayaan dicapai melalui:
- Kemampuan mengakses informasi
- Berpartisipasi dalam pembuatan keputusan
- Membagikan, bertukar, dan membangun pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya
- Memiliki kemampuan untuk meminta pertanggungjawaban individu dan organisasi yang memengaruhi kehidupan seseorang dan komunitas.
Kami melihat kolaborasi positif sebagai inti dari pelaksanaan program yang efektif dan efisien dari segi biaya. Sebagian besar pekerjaan kami berbasis kemitraan dan konsorsium. Pendekatan ini memungkinkan setiap mitra untuk menyumbangkan keahlian dan nilai tambah yang mereka miliki. Pendekatan kolaboratif juga memberikan kesempatan kepada kami untuk mendapatkan ide dan situasi baru. Setiap kolaborasi dan kemitraan menantang pemikiran kami dan membantu kami untuk senantiasa merefleksikan serta meningkatkan kualitas pekerjaan kami.
Ketangguhan
Kerja-kerja kami bertujuan untuk meningkatkan ketangguhan individu dan masyarakat. Kami memahami ketangguhan sebagai upaya mengelola risiko dan mempersiapkan, beradaptasi, dan menanggapi peristiwa di dunia yang senantiasa berubah. Perubahan ini mungkin berasal dari risiko bahaya atau melalui perubahan pada masyarakat dan perekonomian.
Ketangguhan membutuhkan hubungan yang kuat antara individu, masyarakat, pemerintah, dan sektor-sektor yang mendukung peningkatan dan integrasi kapasitas untuk lebih menyadari, mengidentifikasi, dan mengelola risiko. Kesadaran risiko adalah pemahaman tentang apa ancaman yang ada dalam suatu aktivitas, apa potensi risikonya, dan bagaimana mengelola maupun mengurangi risiko bagi masyarakat, pemerintah, staf, mitra, dan organisasi.
Kami menyadari bahwa untuk menjadi tangguh membutuhkan masyarakat yang berdaya dan mampu bertindak berdasarkan peluang yang ada, serta memimpin dalam membentuk masa depan mereka. Kami mendorong partisipasi bermakna dari semua masyarakat dalam mewujudkan komitmen Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 dan upaya pembangunan berkelanjutan.
Misi
Strengthening individuals, communities, and decision makers capacities to create positive change in disaster management, climate action, and socio economic empowerment.
Improving meaningful access and participation for all through equal partnership.
Enhancing societies ability to manage risk inclusively.
ASB Indonesia dan Filipina berkomitmen untuk meningkatkan akses dan partisipasi yang berarti bagi semua. Pekerjaan kami bertujuan untuk memperkuat kapasitas individu, komunitas, organisasi, jaringan dan pembuat keputusan untuk menciptakan perubahan positif dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengelola risiko.
Pengurangan Risiko Bencana
ASB Indonesia dan Filipina melaksanakan program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pertama kami pada tahun 2007 dengan mendirikan Program Kesiapsiagaan Darurat Sekolah untuk semua sekolah dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Program serupa juga diadakan di Klaten (Jawa Tengah), Ciamis (Jawa Barat), Nias dan Nias Selatan (Sumatera Utara), serta Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat). Selama pelaksanaan program berbasis sekolah, ASB menyadari bahwa jumlah siswa penyandang disabilitas di luar sekolah lebih banyak daripada di dalam sekolah.
Terinspirasi oleh proyek PRB berbasis sekolah pada tahun 2009, ASB berhasil mengimplementasikan proyek PRB yang menargetkan anak-anak berkebutuhan khusus di luar sekolah. Proyek tersebut selenggarakan di wilayah Sleman dan Gunungkidul, Yogyakarta, hingga Ciamis, Jawa Barat, pada tahun 2011. Tahun berikutnya, ASB Indonesia dan Filipina menerapkan pendekatan Community-Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) dan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) untuk memulai proyek Ketangguhan Masyarakat hingga sekarang. Saat ini, ASB aktif membantu berbagai organisasi, termasuk Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD), dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, berbagi dan belajar tentang kompetensi Disability-inclusive Disaster Risk Reduction (DiDRR).
Di tingkat regional dan global, ASB telah aktif berpartisipasi dalam forum pengembangan kebijakan PRB. Partisipasi ASB dalam forum tersebut bertujuan untuk menerapkan kebijakan yang lebih inklusif dan relevan pada situasi yang ada. ASB menerapkan praktik tersebut dalam programnya untuk dipertimbangkan dalam pengembangan kebijakan dan kerangka kerja PRB di semua tingkatan. ASB mulai aktif mempromosikan isu inklusi disabilitas di tingkat regional pada tahun 2007.
Pada tahun 2012, didukung oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), ASB dan enam organisasi lainnya yang bekerja di bidang inklusi disabilitas membentuk Disability inclusive DRR Network (DiDRRN). Pada momen tersebut, DiDRRN melalui partisipasinya dalam the 5th Asian Ministerial Conference for DRR (5th AMCDRR) pada tahun 2012, berhasil memfasilitasi pengakuan akan pentingnya pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas dan mengakui mereka sebagai aktor aktif dalam PRB, sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Yogyakarta. Dengan demikian, Deklarasi Yogyakarta menjadi kebijakan regional PRB inklusif pertama untuk inklusi disabilitas. Partisipasi aktif ASB dan mitra DiDRRN dalam proses konsultasi kebijakan membuahkan hasil yang memuaskan melalui kesepakatan Sendai Framework for DRR (2015-2030), yang memberikan pengakuan dan mandat khusus mengenai inklusi disabilitas dalam setiap aspek dan fase pengurangan risiko bencana di semua tingkatan.
Respons Kemanusiaan
Aksi kemanusiaan harus menguntungkan bagi semua pihak, termasuk perempuan, laki-laki, anak-anak, lanjut usia, kelompok terpinggirkan dan juga penyandang disabilitas. Keadaan darurat dapat berdampak pada semua pihak. Namun, individu yang termasuk dalam kelompok paling berisiko menghadapi risiko yang lebih tinggi dan terpengaruh secara tidak proporsional karena berbagai hambatan yang dimiliki. Dampak yang sering mengancam jiwa pada sebagian besar kelompok berisiko dapat dikaitkan dengan tidak adanya perspektif inklusif dalam aksi kemanusiaan.
“Negara-negara pihak harus mengambil semua kebijakan yang diperlukan untuk menjamin perlindungan dan keselamatan penyandang disabilitas dalam situasi berisiko, termasuk situasi konflik bersenjata, darurat kemanusiaan, dan terjadinya bencana alam, selaras dengan kewajiban mereka di bawah hukum internasional, termasuk hukum hak asasi manusia internasional” – Convention on the Rights of Persons with Disabilities, Pasal 11
“..memastikan penyandang disabilitas memiliki akses ke respon kemanusiaan..tanpa diskriminasi..” – Charter on Inclusion of Persons with Disabilities in Humanitarian Action
ASB memfasilitasi pelaksanaan aksi kemanusiaan inklusif melalui:
- Keterlibatan kelompok paling berisiko dalam semua fase aksi kemanusiaan: dari penilaian awal hingga perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
- Dorongan terhadap penggunaan data terpilah menurut usia, jenis kelamin, dan disabilitas (GADDD)
- Aksesibilitas – memastikan orang yang paling berisiko memiliki akses ke aksi kemanusiaan dan informasi terkait.
- Prioritas perlindungan – tidak hanya berkaitan dengan bahaya fisik tetapi juga perlindungan terhadap stigma dan diskriminasi.
- Peningkatan kapasitas – mendorong partisipasi dan peran kepemimpinan penyandang disabilitas yang berdampak.
Pengembangan Sosial-Ekonomi
Sejak tahun 2008, isu yang dikerjakan oleh ASB semakin berkembang, termasuk pembangunan sosial dan ekonomi. Mandat pekerjaan ASB yang tertuang dalam nota kesepahaman terakhir antara ASB dengan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (2016-2019) mencakup kontribusi ASB terhadap pengembangan ketangguhan masyarakat melalui pembangunan ekonomi dan sosial serta bantuan kemanusiaan.
Pendekatan kunci dalam inisiatif pengurangan risiko bencana dan pembangunan sosial-ekonomi milik ASB adalah dengan mendorong kepemimpinan penyandang disabilitas. Pekerjaan kami bertujuan untuk berkontribusi dalam membangun ketangguhan masyarakat melalui integrasi antara manajemen risiko, inklusi sosial, dan pembangunan sosial-ekonomi. Konteks sosial ekonomi yang beragam dan dinamis di desa-desa tempat kami bekerja telah memberikan pembelajaran yang didapat dari upaya, intervensi, dan pendekatan yang dilakukan selama program kemitraan.
Pemberdayaan masyarakat telah menjadi pilar utama dari pekerjaan kami. Kami berupaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang terpinggirkan untuk dapat berpartisipasi dan secara aktif mempengaruhi pengelolaan dan proses pengambilan keputusan lembaga masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.
Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat yang ingin kami capai berfokus pada peningkatan kesejahteraan kolektif dan individu dalam hal:
- Peningkatan ekonomi, khususnya mata pencaharian dan kecukupan pangan
- Peningkatan kesejahteraan sosial (pendidikan, kesehatan, dan air, sanitasi dan kebersihan)
- Bebas dari segala bentuk penindasan, stigma, dan marginalisasi
- Perlindungan yang terjamin, terutama dari bahaya, ancaman, dan ketakutan.
Adaptasi Perubahan Iklim
Perubahan iklim telah menjadi penyebab banyaknya perubahan lingkungan sehingga menjadikan ekosistem dunia dan jutaan orang semakin rentan terhadap meningkatnya dampak bencana alam dan bahaya. Berdasarkan pengalaman kami di lapangan dalam program pengurangan risiko bencana, kami menyadari bahwa perubahan iklim telah menimbulkan banyak ancaman pada populasi yang paling berisiko, termasuk penyandang disabilitas. Kekeringan, hujan lebat, banjir, dan bencana alam lainnya dengan frekuensi yang lebih sering dan besar telah membuat mata pencaharian mereka lebih rentan karena kerawanan pangan, kehilangan pendapatan, dan marginalisasi yang semakin parah. ASB melihat kondisi ini sebagai kebutuhan untuk membangun ketangguhan dan pemberdayaan kelompok berisiko.
ASB telah mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana milik ASB ke dalam adaptasi perubahan iklim sejak tahun 2015. Pada tahun 2019, kami membentuk program adaptasi perubahan iklim yang dikombinasikan dengan pengurangan risiko bencana, melalui kemitraan dengan ACCORD di Filipina dan Yayasan Bintari di Indonesia. Kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan iklim dari 21 komunitas di 6 kota/kabupaten di Filipina dan Indonesia yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pada tahun 2020, kami memulai kemitraan lain dengan Center for Disability in Development (CDD) di Bangladesh, Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD) di Indonesia, dan People’s Initiative for Learning and Community Development (PILCD) di Filipina. Kami bekerja sama untuk meningkatkan pembangunan sosial-ekonomi dan ketangguhan komunitas rawan bencana di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan mewujudkan mata pencaharian yang cerdas iklim dan sensitif terhadap risiko serta keterlibatan dan kepemimpinan yang lebih besar dari perempuan dan penyandang disabilitas.
| Nama | Jabatan | Pendidikan |
|---|---|---|
| Chrysant Lily Kusumowardoyo Agnes Patongloan Ary Ananta Prasetya Rofikul Hidayat | Country Director Program Implementation Manager WASH Advisor Capacity Building and Engagement Government Manager
| Tingkat Pendidikan Terakhir |