Dr. Wiwik Maladerita, S.Pd., M.Pd Satu-satunya Guru SD yang Doktor, Kartini Tangguh dari Tapan
- Apr 17, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Artikel
Penulis : Pasisia Bana
Dari selatan Sumatera Barat, tepatnya Kabupaten Pesisir Selatan, lahir sosok pendidik yang namanya kian diperbincangkan. Wiwik Maladerita bukan figur yang tampil dengan gemerlap panggung besar, tetapi kiprahnya berbicara lewat kerja sunyi dan dampak nyata. Perempuan kelahiran Tapan, 27 April 1991 itu, menjelma menjadi salah satu wajah inspiratif pendidikan akar rumput di daerah pesisir.
Berangkat dari profesinya sebagai guru sekolah dasar, Wiwik menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Di usia 34 tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) di Universitas Negeri Padang. Pencapaian itu menjadi penanda penting bahwa dedikasi, konsistensi, dan keberanian menempuh jalan panjang mampu menembus sekat geografis dan struktural yang kerap membatasi pendidik di daerah.
Keunggulan Wiwik tidak berhenti pada capaian akademik semata. Ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi, menjadikan ilmunya tidak terkurung di ruang kelas atau ruang seminar. Peran gandanya sebagai pendidik dan penggerak masyarakat memperlihatkan watak kepemimpinan yang tumbuh dari kepekaan terhadap kebutuhan sekitar.
Salah satu kiprah pentingnya adalah sebagai Ketua Sentra Layanan Universitas Terbuka Cendikia WM Tapan. Sentra layanan ini berlokasi strategis di samping Kantor Pos Tapan, pada jalur lintas Provinsi Bengkulu dan Jambi. Dari titik sederhana itulah, Wiwik membangun simpul pendidikan tinggi yang menjangkau masyarakat lintas daerah.
Melalui sentra layanan tersebut, Wiwik berhasil merekrut sekitar 800 mahasiswa Universitas Terbuka, dengan proyeksi mencapai 1.000 mahasiswa di Kabupaten Pesisir Selatan. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan tinggi yang inklusif dan fleksibel, terutama bagi mereka yang sebelumnya merasa terhalang usia, pekerjaan, atau jarak.
Terobosan lainnya adalah keberhasilannya mengajak aparatur desa di Kabupaten Pesisir Selatan untuk melanjutkan studi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada jurusan Ilmu Pemerintahan. Wali nagari, sekretaris, dan perangkat nagari lainnya diberi akses untuk meningkatkan kapasitas akademik tanpa meninggalkan tanggung jawab pelayanan publik.
Jangkauan pengabdian Wiwik bahkan melampaui batas administratif daerah. Sejumlah besar mahasiswanya berasal dari Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Hal ini menegaskan bahwa sentra layanan yang ia kelola telah menjadi magnet pendidikan regional, sekaligus memperkuat peran Pesisir Selatan sebagai simpul pembelajaran di wilayah selatan Sumatera.
Pada tahun ini, Wiwik mencatat capaian penting lainnya. Ia berhasil membimbing mahasiswa dari kalangan aparatur nagari hingga menyelesaikan perkuliahan, dan dijadwalkan mengikuti wisuda pada 2026. Keberhasilan tersebut menandai babak baru profesionalisme aparatur desa yang lebih berpengetahuan, adaptif, dan siap menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan ke depan.
Kini, Wiwik Maladerita dikenal bukan hanya sebagai akademisi yang sukses, tetapi juga figur yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Keteladanan dan prestasinya menjadi sumber motivasi bagi generasi muda Pesisir Selatan. Seperti prinsip yang ia pegang teguh, “Mencerdaskan Pesisir Selatan adalah investasi masa depan; pendidikan hari ini menentukan kemajuan daerah esok hari.” Sebuah keyakinan yang ia buktikan melalui kerja nyata, hari demi hari.