Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 2)

  • Apr 26, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Kalpataru

Penulis: Bung Edy Djambak

Foto: Bung Edy Djambak

Tahun 2015 Penuh Tantangan dan Harapan

Setelah Laskar Pemuda Peduli Lingkungan melakukan penanaman ketapang dan berbagai jenis lainnya pada tahun 2013 dan 2014, komunitas ini terus membangun komunikasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan (pada saat itu kewenangan laut masih di kabupaten) dan berkomunikasi dengan berbagai pihak. Komunitas berupaya mencari informasi tentang vegetasi yang tepat untuk ditanam di lahan pasang-surut termasuk kawasan pantai di Amping Parak.

Bak mengharap pucuk, malah ulam yang tiba! Komunitas seumuran jangung ini bertemu dengan Yozki Wandri Kepala Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan. “LPPL berdiskusi banyak tentang vegetasi pantai dan potensi ancaman bencana yang dihadapi masyarakat tepi pantai dengan Pak Yozki Wandri, termasuk kami menanyakan program penghijauan kawasan pantai berada di lembaga apa?” kata Haridman Ketua Laskar Pemuda Peduli Lingkungan.

Melihat kesungguhan LPPL, akhirnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pessel memberikan jawaban. “Kami coba cari informasi ke DKP Provinsi Sumatera Barat ataupun ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Mana tau ada kegiatan rehabilitasi,” kata Yozki.

Foto : LPPL mengangkut pancang dengan rakit drum 

Pada pertengahan tahun 2015, LPPL Amping Parak akhirnya mendapat informasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan bahwa pemerintah pusat tahun 2015 memiliki program rehabilitasi. Pesisir Selatan salah satu kawasan yang akan ditanam. “Persyaratan rehabilitasi adalah ketersediaan lahan dan ada lembaga atau kelompok menanam, merawat dan mengawasi tanaman. Persyaratan itu ada pada Amping Parak dan Laskar Pemuda Peduli Lingkungan,” kata Yozki saat sosialisasi rehabilitasi kawasan pantai di Aula TPI Kambang. 

Baca Juga : Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 1)

Akhirnya setelah seluruh administrasi dan persyaratan terpenuhi, program penanaman mangrove dan cemara laut mulai dilksanakan. Penanaman mangrove sebanyak 35.000 batang yang berada pada enam blok penanaman, cemara laut 3.300 batang dan membentang dari Pintu Muara Amping Parak hingga Ujung Batu Kampung Alai. Khusus mangrove hanya bisa ditanam di Kawasan Muara Pasar Amping Parak saja. 

Foto : Bung Edy Djambak memperbaiki pancang pagar

Jumlah yang ditanam bukanlah jumlah yang sedikit. Bayangkan, 35.000 batang! Perlu perencanaan dan strategi yang matang untuk mensukseskan program. Perlu stamina dan semangat juang yang keras! Akan ada kendala yang akan dihadapi saat pelaksanaan kegiatan, baik dari dalam apa lagi dari luar komunitas.

Kerampangpun Berkurap

Kendala penanaman saat itu adalah kondisi medan yang berat. Logistik berupa bambu, pancang dan bibit mangrove yang beratnya ber-ton-ton tidak bisa diangkut melalui jalur darat, tetapi melalui jalur sungai. Pengangkutan lewat jalur sungai inipun terkendala dengan keterbatasan biaya operasional perahu. Akhirnya Anggota Laskar Pemuda Peduli Lingkungan lebih banyak mendermakan tenaga untuk memobilisasi logistik.

Baca Juga : Pemkab Pessel Usulkan LPPL Amping Parak Sebagai Calon Penerima Kalpataru Tahun 2026

Tantangan ke dua adalah waktu kerja yang pendek dalam satu hari. Pendeknya waktu kerja akibat berkejaran dengan pasang membuat LPPL harus bekerja seperti "mesin" agar tanaman bisa ditanam dalam jumlah banyak dalam satu hari. Waktu kerja maksimal dalam satu hari sekitar 4-5 jam saja. Anggota LPPL musti berendam selama 4-5 jam di muara dengan air tidak berkualitas bagus tak ayal hasilnya Anggota LPPL menderita kurap di "kerampang". Namun dengan harapan suatu saat nanti kawasan lahan pasang surut termasuk pantai berubah menjadi lingkungan yang hijau ditumbuhi vegetasi.

Tantangan selanjutnya selain anomali cuaca. Dan banyaknya ternak kerbau di lahan pasang surut Amping Parak. Hal ini membuat Anggota LPPL harus bekerja keras agar tanaman tidak rusak. Sementara di pantai, ratusan sapi juga mengintai cemara laut. Untuk mengatasi hal tersebut LPPL membagi jadwal piket agar beban pengawasan tanaman menjadi lebih ringan.

Foto : Kawanan kerbau melintas di kawasan rehabilitasi Pantai Amping Parak

Aksi penanaman mangrove ini juga terhadang oleh sikap segelintir orang yang belum paham tentang pentingnya mangrove. LPPL ketika itu dianggap melakukan kegiatan yang sia-sia dan senewen.

Ada juga yang berpendapat bahwa mangrove akan menjadi semak belukar dan sarang ular dan nyamuk saja. Bermacam-macam tekanan psiklogis yang diterima. Namun segenap Anggota LPPL meyakini bahwa penanaman mangrove dan cemara laut adalah langkah penting untuk menyelamatkan lingkungan. Manfaatnya akan dirasakan kelak di kemudian hari! (Bersambung)

(Catatan : Edy Djambak adalah aktivis Lingkungan di Amping Parak)