Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 3)
- Apr 26, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Kalpataru
Penulis: Bung Edy Djambak
Gelombang Tinggi, Pantai Amping Parak Putus, Musnah 500 Cemara
Pertengahan tahun 2016 cemara laut yang kami tanam di Pantai Amping Parak sudah mulai tumbuh dan memanjang. Tingginya sekitar 2 meter. Daunnya hijau tua dan mengepak. Embun tampak menggantung disetiap helai daun saat matahari terbit. Umur tanaman yang sedang enak benar jadi mainan.
Tiap pagi dan sore kami memeriksa tanaman dari ujung utara ke selatan dengan perkakas berupa palu, parang, paku dan tali-temali. Kami berpatroli untuk memastikan pagar maupun tanaman tidak ada yang rusak. Jika ada pagar yang rusak maka kami langsung memperbaiki tanpa menunggu hari berikutnya. Kami mengurangi kerusakan pagar dan tanaman.
Baca Juga : Pemkab Pessel Usulkan LPPL Amping Parak Sebagai Calon Penerima Kalpataru Tahun 2026
Sementara itu, untuk urusan vegetasi dalam muara ada pula tim LPPL yang melintasi muara dengan perahu. Peralatan yang dibawa biasanya tali, palu dan paku. Peralatan itu kami persiapkan untuk memperbaiki pagar yang rusak atau ada pengikatan mangrove yang putus.
Pohon mangrove ketika perkembangannya cukup baik. Akarnya sudah mulai menghujam bumi dan juga sudah mulai ada tunas akar baru yang menggantung. Dedaunannya juga sudah bertambah banyak, setiap pohon sekitar 15 hingga 20 lembar daun.
Ujian Itu Datang
Pagi, hari Rabu tanggal 8 bulan Juli tahun 2016 pantai yang kami tanami dapat ujian cukup besar. Membuat kami tidak tidur nyenyak. Gelombangnya sangat tinggi, bahkan ketinggian permukaan laut di atas punggung pasir. Air laut langsung melewati pantai dan masuk ke muara.

Pantai kami telah putus diterjang air laut sepanjang 200 meter, sehingga terbentuklah muara baru. Ombak besar juga telah mencatat 500 batang cemara laut. Cemara laut kami lenyap bersama putusnya pantai yang membentuk muara baru itu.
Kami hanya bisa mengusap dada melihat kejadian yang sedang menimpa tanaman dan pantai. Ombak terus saja bergulung. Sembari kami berdoa agar gelombang besar ini segera berhenti.
Selain pantai putus, pada bagian utara pantai terbenam air laut. Tidak kurang satu kilometer pantai terbenam selama satu jam setiap pagi selama satu minggu.
Dua blok tanaman bakau kami ikut tersapu pada gelombang hari pertama. Blok 5 seluruhnya hilang dan berubah menjadi muara sementara. Kemudian blok 6 sebagiannya tertimbun pasir yang terbawa laut.
Saat gelombang itu tiba, tanaman kami belum cukup kuat untuk melawan terjangan gelombang. Namun kami yakin ada hikmah di balik kejadian ini, minimal sebuah pembelajaran betapa pentingnya kita menjaga alam.
Tiga bulan kemudian muara yang terbentuk akibat gelombang tinggi tersebut tertutup kembali dan berubah menjadi hamparan pantai yang luas. Lebih dari dua hektar tampak seperti gurun pasir.
Kami kemudian bangkit lagi dan berusaha melakukan penanaman 500 batang cemara di hamparan pasir yang luas itu. Memagari tanaman, merawat dan mengawasinya hingga tumbuh besar.
Beberapa tahun kemudian ketika semua tanaman sudah besar, gelombang dengan ketinggian yang sama datang lagi. Namun tanaman kami sudah kuat untuk mempertahankan pantai dan muara kami. Gelombang besar itu tidak lagi mengancam pantai dan muara, bahkan saat air laut tinggi berbagai jenis ikan dari laut tampak mampir di kawasan mangrove kami misalnya pari, hiu, baracuda dan lain-lain. (Bersambung)
Foto di Bawah : Bung Edy Djambak (Aktivis Lingkungan Amping Parak)
