Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 Pessel (Bagian 4)
- Apr 26, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Kalpataru
Penulis: Bung Edy Djambak
Ide "Gila", Memindahkan Pasir Putih Kambang ke Amping Parak !
Tanggal 8 Juli tahun 2016, saya bersama Haridman Ketua LPPL terjebak macet di Pasir Putih Kambang Kecamatan Lengayang. Saat itu libur Lebaran sudah memasuki hari ke-6 jika mengikuti Shalat Idul Fitri Muhammadiyah. Berbagai permainan ada di sana mulai dari kemidi putar, roda gila, rumah hantu, permainan anak-anak hingga berbagai kuliner.
Pengunjung membludak hingga memenuhi jalan raya. Ruas jalan macet dari Jembatan Pasar Gompong hingga ke Simpang PLN Lakuak. Petugas di Pos PAM Pasir Putih Kambang tampak mengatur arus lalu-lintas. Kendaraan dari arah utara dialihkan ke jalan alternatif Padang Rubia sementara dari arah selatan lurus mengikuti Jalan Nasional Padang-Bengkulu.
Baca Juga : Pemkab Pessel Usulkan LPPL Amping Parak Sebagai Calon Penerima Kalpataru Tahun 2026
Karena terlalu lama kendaraan kami tidak bisa bergerak, kami berhenti tepat di depan Kedai Kopi milik Anto. Anto merupakan teman sekolah Haridman. Sembari menyeruput kopi pahit, Haridman menatap serius wajah saya.
"Ada apa?" tanya saya.
Haridman sebentar terdiam, menunggu suara bising sedikit mereda, lalu ia melanjutkan pembicaraan.
"Sep! Suatu saat saya akan memindahkan orang di Pasir Putih Kambang ini ke Amping Parak!" kata Haridman kepada saya sambil tersenyum tipis lalu kembali menghirup kopi pahitnya.
Kalimat itu terdengar tegas dan meyakinkan. Tidak seperti biasanya, ia sering berseloroh.

Foto : Bung Edy Djambak, penulis kompasnagari.kim.id
Saya terperangah dengan pernyataan Haridman. Ia tiba-tiba saja melontarkan pernyataan seenaknya di tengah keramaian pengunjung Pasir Putih.
"Ini ide gila apalagi? Kamu serius Tuan? Belum sembuh kurap di badan kawan-kawan akibat menanam bakau, kini Tuan punya ide yang tidak masuk di akal!" tanya saya dengan nada sangat tidak percaya dan penuh rasa heran.
"Iya, saya serius. Kita lihat saja nanti," jawab Haridman.
"Oke kalau begitu! Apa alasan yang bisa meyakinkan saya bahwa pengunjung di sini bisa dipindahkan ke Amping Parak?" Saya mendesak Haridman.
Lalu dijawab Haridman. "Amping Parak itu negeri yang unik,".
Lama pernyataan itu terngiang - ngiang dalam fikiran saya. Bahkan hingga tulisan ini saya buat masih teringat cara dia mengucapkannya.
Itulah ide paling "gila" yang saya dengar sepuluh tahun lalu dari seorang Haridman. Pada akhirnya saya baru sadar, Haridman seorang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Analisanya tajam. Dan yang saya tahu ia selalu cermat merencanakan segala sesuatu.
Tahun 2017, saya dan seluruh Anggota Laskar Pemuda Peduli Lingkungan di ajak Haridman membuat perencanaan pembangunan pariwisata bersama konsultan yang membiayai Jerman. Seingat saya, dari hasil pengkajian yang dituangkan ke dalam Rancangan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Amping Parak ada dua pengelmpokkan pariwisata di Amping Parak yakni minat wisata khusus di Pantai Penyu Amping Parak dan wisata masal diPasir Alai. Dua kawasan yang memiliki magnet tersendiri di Nagari Amping Parak.
Saat RIP masih jadi rencana, Kawasa Ekowisata Amping Parak terlebih dahulu diserbu wisatawan. Dengan cepatnya informasi menjalar melalui media sosial dan dari mulut ke mulut. Bahkan Libur Lebaran tahun 2017, 2018 dan 2019 pengunjung destinasi wisata Amping Parak membeludak. Kemudian 2020 dan 2021 tutup akibat Covid 19.
Sesuai dengan perencanaan di RIP, kawasan yang dijadikan sebagai wisata massal yakni Pantai Air Busuk dan Alai Semenjak 2019 mulai menarik perhatian wisatawan.
Aktifitas penghijauan pantai yang diselenggarakan LPPL pada akhirnya memberikan dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Munculnya usaha baru disektor pariwisata di Nagari Amping Parak. Ratusan orang memperoleh rezeki dari kegiatan kepariwisataan. Inilah ide tak masuk akal bagi saya pada akhirnya terwujud. Pasir Putih Kambang berbagi wisatawan dengan Amping Parak.

Di mata nasional, Amping Parak mencapai puncak prestasinya di bidang pariwisata pada tahun 2024 saat lolos 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Sebuah prestasi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam fikiran saya. Jangankan terfikir, tahupun saya tidak dengan kepariwisataan dunia.