Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 Pessel (Bagian 5)
- Apr 27, 2026
- Kompasnagari.kim.id
- Kalpataru
Penulis: Bung Edy Djambak
Awal-Mula Konservasi Penyu di Amping Parak
Penghujung September tahun 2015 kami sudah memiliki sebuah Pondok Kerja. Posisinya berada di tengah penanaman cemara laut. Pondok Kerja tersebut terbuat dari kayu berupa bangunan pondok berlantai agak tinggi. Tujuan lantai dibuat agak tinggi agar kami mudah melihat seluruh penjuru kawasan yang kami awasi.

Foto Penulis : Bung Edy Djambak
Setiap malam minggu kami berkumpul di Pondok Kerja. Biasanya hingga pukul 12.00 WIB. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan Anggota LPPL di sana, mulai dari memancing ikan, main gitar, membakar ikan atau sekadar duduk menikmati suasana pantai dan laut.
Baca Juga : Pemkab Pessel Usulkan LPPL Amping Parak Sebagai Calon Penerima Kalpataru Tahun 2026
Sekira Pukul 10.30 WIB saya menemukan penyu hijau sedang bertelur. Tidak jauh dari Pondok Kerja, letaknya di bagian utara pondok. Awalnya saya mengira telur penyu ini bisa diambil lalu direbus untuk dimakan.
Saya melaporkan temuan penyu bertelur tersebut kepada Ketua LPPL Haridman yang pada malam itu juga hadir di Pondok Kerja. Mendengar laporan saya, Haridman minta ditunjukkan posisi penyu tersebut. Akhirnya saya menunjukkan lokasi penyu bertelur diiringi empat Anggota Kelompok lainnya yaitu Yendri, Rino, Omricon dan Jesmen.

Keterangan Foto : Kegiatan Pelepasliaran Penyu
Saya melihat Haridman mengeluarkan ponselnya, lalu mengabadikan momen penyu pertelur tersebut berupa foto dari berbagai sudut dan penjuru. Lepas itu, ia juga merekam detik-detik telur dikeluarkan induk. Hal seperti itu berlangsung hingga penyu menutup lobang sarang telur penyu, dan akhirnya penyu kembali ke laut.
Setelah semua proses bertelur tersebut selesai, Haridman menjelaskan kepada kami. "Penyu adalah hewan yang dilindungi. Kita tidak boleh mengambil lalu memperjual-belikan penyu dan produk turunannya. Telur kita biarkan, lalu nanti setelah telur menetas kembali ke laut," kata Haridman.
Setelah kami hitung jumlah telur 120 butir. Tidak ada satu orangpun yang diperkenankan untuk mengambil telur. Malam itu juga kami membuat pagar sederhana untuk melindungi penyu dari predator dan manusia.
Tidak berselang lama, datang Zulkifli mengabari bahwa ada lagi penyu yang mendarat. Jaraknya sekitar 300 meter arah selatan Pondok Kerja. Sebagian dari kami bergerak menuju titik penyu berteur. Jenis penyu yang sedang bertelur tersebut adalah jenis lekang. Jumlah telurnya 140 butir. Telur tersebut kami relokasi ke tempat telur penyu hijau yang sedang kami pagar.
Empat puluh lima hari kemudian, penyu lekang menetas. Menetasnya penyu lekang tersebut bertepatan dengan kunjungan monitoring Elvita Nezon dari Kementerian Kelautan dan Perikanan didampingi Afriman Julta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan.
Haridman kepada Elvita Nezon melaporkan perkembangan mangrove dan cemara laut. Selain itu juga disampaikan perihal menetasnya penyu pada pagi hari itu. Seluruh rombongan yang mengajak kami melihat "penetasan semi alami" (pada saat itu kami baru mengetahui bahwa pola penetasan seperti itu disebut semi alami).
Rombongan KKP dan DKP Pessel tampak senang dengan aktivitas perlindungan penyu yang kami lalukan. Pada saat itu, kami melepas-liarkan anak penyu ke laut bersama-sama.
Berkenalan dengan BPSPL
Tiga hari setelah kunjungan KKP ke Amping Parak, Haridman menerima telepon dari Afriman Julta Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan. Afriman Julta mengagendakan pertemuan perwakilan kelompok dengan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang (Satker Kementerian Kelautan dan Perikanan).

Ket Foto : Afriman Julta, Kabid Perikanan Tangkap Pessel tahun 2015
Akhirnya Haridman berangkat ke Padang bersama Afriman Julta menghadap Muhammad Yusuf Kepala BPSPL Padang beralamat di Lubuk Minturun. Di sana Afriman Julta memperkenalkan Haridman perwakilan LPPL dan berbagai aktivitas lingkungannya kepada Muhammad Yusuf.
Baca Juga : Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 Pessel (Bagian 4)
Muhammad Yusuf tampak sangat tertarik dengan kegiatan Laskar Pemuda Peduli Lingkungan, terutama aktivitas perlindungan penyu. Semenjak itulah BPSPL memberikan ilmu konservasi penyu kepada LPPL. Beberapa diantara kami bahkan dikirimnya mengikuti Bimtek Konservasi Penyu ke berbagai daerah.
Kami dibekali pembukuan dan cara pengisian pembukuan tersebut. Selain itu, kami juga dapat bantuan Kompak dari BPSPL Padang berupa perahu, bak penetasan penyu dan lain - lain.
Setiap tahun 180 sarang penyu yang masuk ke dalam formulir pengaturan penyu. Rata-rata setiap sarang berisi 120 butir telur dengan angka penetasan beragam. Penetasan angka alami yang menetasnya bisa mencapai 100 persen, sementara pada penetasan angka buatan yang menetaskan sekitar 80 persen, hal ini terjadi mungkin akibat perpindahan tersebut.
Terakhir kami memiliki inovasi penetasan penyu. Inovasi tersebut berupa mesin tetas untuk menghasilkan anak penyu jantan. Sementara pada penetasan alami dan semi alami jenis kelamin penyu yang menetas adalah betina karena suhu di dalam pasir di atas 28 derajad selsius. Hal ini akibat terjadinya peningkatan suhu bumi dan dampak pemanasan global. Maka untuk itulah kami melakukan upaya penetasan buatan.