Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 6)

  • Apr 28, 2026
  • Kompasnagari.kim.id
  • Kalpataru

Penulis: Bung Edy Djambak

Mengawinkan Risiko Bencana dan Pariwisata

Sore hari, tanggal 16 Desember tahun 2016 seorang perempuan berkebangsaan Australia datang ke Amping Parak. Nama permpuan tersebut Annie Slomann. Ia datang ingin berdiskusi dengan Haridman Ketua Laskar Pemuda Peduli Lingkungan.

Foto Penulis : Bung Edy Djambak

Saat itu belum ada jalan resmi menuju Muara Amping Parak. Haridman membonceng Annie dengan sepeda motor bebek menyisiri jalan setapak. Terus menuju kedai Samsuddin di pinggir muara. Dari sana, Annie naik rakit drum menuju Pondok Kerja Laskar Pemuda Peduli Lingkungan.

Keterangan Foto : Annie Slomann naik rakit drum menuju Pondok Kerja Laskar Pemuda Peduli Lingkungan

Sampai di Pondok Kerja Laskar Pemuda Peduli Lingkungan, Annie dipersilahkan naik dan disuguhi minuman oleh Anggota Laskar Pemuda Peduli Lingkungan yang sudah menunggu. Beberapa Anggota Laskar Pemuda Peduli Lingkungan juga ikut duduk melingkar di atas pondok sambil menikmati kopi. 

Baca Juga : Pemkab Pessel Usulkan LPPL Amping Parak Sebagai Calon Penerima Kalpataru Tahun 2026

Haridman kemudian membuka diskusi (berbahasa Inggris) dengan mengucapkan selamat datang. Kemudian memperkenalkan dirinya dan Anggota Kelompok yang hadir. Pada pertemuan itu saya hanya mengerti hingga Haridman perkenalan karena ia menyebut nama kami. Namun setelah itu telinga saya hanya seperti mendengar suara kumbang saja. Agak lama dan tampak serius pembicaraan mereka. Sesekali Haridman saya lihat menunjuk pohon cemara laut dan bakau.

Baca Juga : Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 1)

Setelah diskusi itu selesai, Haridman mengajak Annie Slomann melihat penetasan penyu. Annie tampak senang melihat penetasan penyu tersebut. Beberapa kali dia mengambil foto penetasa dari berbagai titik. Setelah itu Annie berangkat ke Padang.

Malam harinya kami berkumpul secara tiba-tiba. Haridman menyebutkan, kami harus siap menjadikan Amping Parak sebagai wisata berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Kami semua bingung dengan ucapan Haridman.

Baca Juga : Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 2)

“Maksudnya kita kawinkan potensi bencana di Amping Parak dengan pariwisata. Dari berbagai kajian, maka potensi bencana terbesar kita adalah gempa bumi dan tsunami. Kita buat paket wisata Pengurangan Risiko Bencana untuk siswa,” katanya.

Foto : Paket wisata Edukasi PRB untuk siswa

Kami makin tidak mengerti. Ini ide "gila" ketiga yang saya dengar dari Haridman. Ide pertama adalah menanam magrove dan cemara laut di lahan tandus, kedua memindahkan wisatawan dari Pasir Putih Kambang ke Amping Parak, lalu ke tiga mengawinkan pariwisata dengan risiko bencana.

Baca Juga : Kisah Panjang LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 dari Pessel (Bagian 3)

Pada tanggal 5 Januari 2017 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Laskar Pemuda Peduli Lingkungan, Dilaksanakan pembentukan Tim Penanggulangan Bencana (PB) pada setiap kampung di Amping Parak. Jumlah Tim PB seluruhnya 240 orang. Tim PB dilatih dan diberi ilmu Pengurangan Risiko Bencana.

Keterangan Foto: Haridman Ketua Forum PRB Nagari Amping Parak dan Tim PB se-Nagari Amping Parak

Selain Tim PB juga kami membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Nagari Amping Parak. Haridman terpilih menjadi Ketua FPRB. Semenjak itu kami memiliki banyak pelatihan dan pendidikan tentang Pengurangan Risiko Bencana.

Baca Juga : Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 Pessel (Bagian 4)

Pada bulan Juli tahun 2017, Haridman berangkat ke Lombok guna menyampaikan ide tentang Ekowista Berbasis Pengurangan Risiko Bencana dalam Konferensi Nasional Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (KN - PRBBK). Ide ini ditanggapi antuasias oleh peserta KN - PRBBK. Inilah untuk pertama kalinya di Indonesia ada konsep Ekowisata Berbasis PRB.

Sekembali dari Lombok, kami membuka jalan Muara Amping Parak. Simpang memasuki jalan tersebut di kemudian hari dikenal dengan nama Simpang Penyu. Kami memasang media interprestasi dan petunjuk penyelamatan mulai dari Kawasan Penghijauan hingga di pinggir jalan baru. Kemudian berlanjut hingga ke Tempat Evakuasi Akhir (TEA).

Keterangan Foto : Petunjuk jalur keluar di Simpang Penyu

Kami kemudian mendorong Pemerintah Nagari dan Bamus Amping Parak untuk menerbitkan Peraturan Nagari Tentang Ekowisata Berbasis Pengurangan Risiko Bencana. Sering terjadi diskusi panjang antara LPPL, Tim PB dengan Pemerintah Nagari, namun intinya semua ingin nagari jadi lebih baik.

Peraturan Nagari Tentang Ekowisata Berbasis Pengurangan Risiko Bencana tersebut baru rampung dan menjadi lembaran nagari pada awal tahun 2018. Pada saat yang sama, kami juga menyusun Rencana Induk Pembangunan Ekowisata Berbasis Pengurangan Risiko Bencana.

Kisah Perjuangan LPPL Amping Parak Calon Penerima Kalpataru tahun 2026 Pessel (Bagian 5)

Ada usaha ada pula hasil. Barangkali kalimat itu tepat saya sematkan atas keberhasilan mengawainkan potensi bencana dengan pariwisata. Pada tahun 2022 dan 2023, Laskar Pemuda Peduli Lingkungan mulai ikut kompetisi nasional. Salah satu yang paling bergengsi adalah Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Tahun 2022 kami tembus 300 Besar ADWI dan 2023 masuk 100 Besar ADWI.  

Puncaknya terjadi pada ADWI Tahun 2024 dimana kami masuk 50 Besar dan meraih Juara 3 Kategori Ketahanan. Dokumen pendukung pada Kategori Resiliensi adalah Ekowisata Berbasis PRB. (Bersambung)